Fenomena Saham Tanpa Tuan: 5 Emiten dengan Free Float Terbesar di BEI

Image: Indonesia Stock Exchange
Aruna9news.com – Struktur kepemilikan saham merupakan salah satu indikator fundamental penting bagi pelaku pasar dalam menilai kualitas suatu emiten. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), muncul fenomena unik ketika sejumlah perusahaan tercatat memiliki porsi kepemilikan saham publik (free float) yang sangat besar, bahkan mencapai 100%, Tingginya porsi saham yang beredar di publik menandakan tidak adanya pemegang saham pengendali yang dominan. Kondisi ini kerap dijuluki sebagai “saham tanpa tuan” oleh pelaku pasar. Absennya pengendali utama dinilai berpotensi menimbulkan ketidakpastian arah bisnis perusahaan, melemahnya tata kelola, hingga pergerakan harga saham yang cenderung fluktuatif dan sulit diprediksi.
Berdasarkan data registrasi pemegang efek terkini, berikut profil lima emiten dengan tingkat free float tertinggi di BEI, beserta latar belakang kepemilikan sebelumnya:
1. PT HK Metals Utama Tbk (HKMU) – Free Float 100,00%
Emiten manufaktur bahan bangunan ini mencatatkan kepemilikan publik penuh. Sebelumnya, HKMU berada di bawah kendali Keluarga Ngasidjo Achmad melalui PT Hyamn Sukses Abadi, Seiring waktu, pengendali lama melepas seluruh kepemilikan sahamnya secara bertahap melalui pasar reguler. Ketiadaan pemegang saham mayoritas membuat perseroan menghadapi tantangan tata kelola, termasuk kesulitan memenuhi kuorum dalam penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) – Free Float 100,00%
Perusahaan taksi konvensional yang pernah berjaya ini kini sepenuhnya dimiliki publik. TAXI sebelumnya merupakan bagian dari portofolio Grup Rajawali milik Peter Sondakh, Tekanan berat akibat disrupsi layanan transportasi daring serta beban utang yang membengkak mendorong pemegang saham pengendali hengkang sepenuhnya. Saat ini, kepemilikan saham TAXI tersebar di kalangan investor ritel tanpa dukungan pemodal institusional strategis.
3. PT Bintraco Dharma Tbk (CARS) – Free Float 94,51%
Sebagai pengelola jaringan diler Toyota Nasmoco di Jawa Tengah dan DIY, CARS mengalami lonjakan free float setelah restrukturisasi keuangan. Emiten ini sebelumnya dikendalikan oleh Keluarga Sebastian melalui PT Ahabe Niaga Selaras, Aksi divestasi berkelanjutan oleh pemegang saham lama menyebabkan kepemilikan saham perseroan menjadi sangat terfragmentasi dan didominasi oleh publik.
4. PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) – Free Float 94,05%
Porsi saham publik PADI meningkat signifikan pasca-gagalnya rencana akuisisi Bank Muamalat. Emiten ini identik dengan nama Edy Suwarno melalui Minna Padi Resources, Anjloknya harga saham memicu aksi jual paksa oleh kreditur atas saham yang dijaminkan dalam skema repo, sehingga kepemilikan pengendali menyusut drastis dan beralih ke pasar reguler.
5. PT WIR Asia Tbk (WIRG) – Free Float 93,89%
Perusahaan teknologi berbasis metaverse ini mencatatkan peningkatan free float tak lama setelah IPO. Lonjakan tersebut dipicu oleh aksi realisasi keuntungan yang agresif dari para pendiri, termasuk Daniel Surya, melalui PT WIR Global Kreatif dan PT Laut Biru Teknologi.
Penjualan saham internal secara masif membuat struktur kepemilikan WIRG kini didominasi oleh investor publik.
Fenomena emiten dengan free float sangat tinggi mencerminkan dinamika kepemilikan yang tidak biasa di pasar modal Indonesia. Meski dapat meningkatkan likuiditas saham, absennya pemegang saham pengendali juga membawa risiko tersendiri, terutama terkait arah strategis perusahaan dan konsistensi tata kelola.
Source: CNBC Indonesia










