MSCI Mengancam, India Jadi Contoh Penyelamat Pasar Saham RI

Ilustrasi foto: IDNFinancial.com

Aruna9news.com Ancaman penurunan peringkat oleh MSCI telah mendorong pasar saham Indonesia ke titik tekanan terdalam dalam beberapa dekade terakhir, Namun bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan, kondisi ini sekaligus membuka gambaran jelas mengenai potensi solusi, yakni mencontoh transformasi India yang berhasil beralih dari pasar dengan persoalan struktural menjadi salah satu primadona di kelompok pasar berkembang, Dikutip dari BusinessTimes, Rabu (5/2), Indonesia kini berupaya memulihkan kepercayaan pasar setelah mendapat peringatan berisiko diturunkan ke kategori pasar frontier, sebuah langkah yang berpotensi mengeluarkan Indonesia dari perhatian banyak investor global.

Permasalahan klasik seperti rendahnya tingkat free float dan terbatasnya likuiditas saham dinilai masih menjadi penghambat utama daya tarik pasar domestik, Pelaku pasar menilai, apabila kedua isu tersebut dapat dibenahi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperoleh re-rating signifikan, dengan India kerap dijadikan contoh paling relevan.

“Cukup ikuti langkah yang dilakukan India. Pasar mereka melonjak pesat,” ujar John Foo, Pendiri Valverde Investment Partners yang berfokus pada Asia Tenggara.

India, yang saat ini menjadi destinasi favorit investor pasar berkembang berkat lonjakan harga saham, rekor penawaran umum perdana (IPO), serta kuatnya basis investor ritel, sempat menghadapi tantangan serupa pada 2010, Pada periode tersebut, otoritas India bergerak menangani kekhawatiran terkait dominasi pemegang saham pengendali, minimnya saham yang beredar di publik, serta ketergantungan pasar terhadap arus modal jangka pendek, Pusat dari reformasi itu adalah penerapan aturan kepemilikan publik minimum sebesar 25% bagi perusahaan tercatat. Emiten yang belum memenuhi ketentuan diwajibkan meningkatkan free float sedikitnya 5% per tahun, sementara perusahaan baru diberikan tenggat tiga tahun untuk mematuhinya, Kebijakan tersebut diperkuat dengan peningkatan transparansi serta perluasan akses bagi investor asing.

Serangkaian langkah ini menjadi landasan bagi revaluasi besar pasar India. Sejak 2010, negara tersebut berhasil menarik aliran dana asing mencapai US$1,25 triliun, membangun salah satu basis investor ritel terbesar di dunia, serta memantapkan posisinya sebagai alokasi utama pasar berkembang—sebuah cetak biru yang dinilai relevan bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan kredibilitas pasar.

“Dalam jangka menengah hingga panjang, penguatan aturan free float dan transparansi biasanya akan memperluas cakupan investasi, menekan premi risiko, dan menarik aliran modal yang lebih berkelanjutan,” kata Djumala Sutedja, Direktur Investasi BNP Paribas Asset Management di Jakarta.

Indonesia sendiri mulai mengadopsi sebagian pendekatan tersebut melalui rencana penerapan ketentuan free float minimum 15% yang ditargetkan mulai berlaku pada Maret, Namun efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada respons korporasi, yang sebagian besar masih dikuasai oleh kelompok keluarga besar, dengan tanggapan yang sejauh ini beragam, Setidaknya satu konglomerat memilih melakukan pembelian kembali saham, langkah yang memang menopang harga tetapi justru mempersempit free float, Di India, keberhasilan reformasi juga ditopang oleh penggunaan mekanisme Offer for Sale, yang memungkinkan pelepasan saham secara terukur, transparan, dan berbasis bursa.

Sepanjang 2012 hingga 2016, pendiri 187 perusahaan India melepas saham senilai satu triliun rupee atau sekitar S$14 miliar melalui skema tersebut, sementara investor asing menanamkan dana sebesar 3,76 triliun rupee di pasar saham India, Di Indonesia, sinyal dari investor institusi domestik menunjukkan adanya minat terhadap mekanisme serupa. Meski mendukung peningkatan free float, mereka mengingatkan agar penerapannya dilakukan secara bertahap.

“Mereka perlu diberikan waktu yang memadai untuk memenuhi ketentuan tanpa memicu distorsi pasar,” ujar Jeffrosenberg Chen Lim, Kepala Riset Maybank Sekuritas di Kuala Lumpur.

Ia menambahkan, tenggat waktu yang terlalu singkat berpotensi memicu gelombang penjualan saham yang tidak sebanding dengan permintaan pasar, Bagi India, peningkatan free float juga sejalan dengan reformasi struktural yang lebih luas, Pemerintah India melonggarkan pembatasan investasi asing di berbagai sektor, mulai dari pertahanan hingga konstruksi, dan pada akhirnya membuka kepemilikan asing hingga 100% melalui jalur otomatis di sektor-sektor seperti pertambangan batu bara, manufaktur kontrak, dan perantara asuransi, Pengalaman India kini menjadi refleksi bagi Indonesia: apakah tekanan yang dihadapi akan berujung pada kemunduran berkepanjangan, atau justru menjadi titik awal kebangkitan dan reli besar berikutnya.

Source: IDNFinancial.com

Penulis: Ariel Yoga Praditya.

Leave A Comment