Gen Z Lebih Fokus Cari Uang Dan Menikmati Hidup Ketimbang Menikah

Last Updated: 9 Februari 2026By Tags: , , ,

Ilustrasi foto GEN Z [ ARIEL YOGA PRADITYA ]

Aruna9news.com Pertanyaan legendaris “kapan nikah?” yang dulu kerap mendominasi obrolan meja makan saat Lebaran, kini tak lagi menjadi momok utama. Bagi banyak anak muda, ada ketakutan lain yang jauh lebih nyata: hidup dalam kemiskinan.

Di kalangan Gen Z , ancaman ketidakstabilan ekonomi kini terasa lebih menekan dibanding stigma melajang. Pergeseran cara pandang ini bukan sekadar gaya hidup modern, melainkan bentuk adaptasi rasional terhadap realitas ekonomi yang semakin berat—mulai dari harga rumah yang melambung hingga tekanan menjadi generasi sandwich.

Dunia yang terus berubah membentuk pola pikir tiap generasi dengan cara berbeda. Di Indonesia yang telah berusia 80 tahun, Bank Dunia mencatat pada 2024 sebanyak 194,4 juta penduduk atau sekitar 68,2 persen masih berada dalam kategori miskin. Angka ini menunjukkan bahwa tantangan ekonomi masih menjadi persoalan serius.

Meski Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pendapatan per kapita Indonesia pada 2024 meningkat menjadi Rp68,62 juta per tahun atau sekitar Rp6,55 juta per bulan, kenaikan tersebut tak selalu sejalan dengan tingginya biaya hidup.

Kalimantan Timur menjadi salah satu contoh nyata. Provinsi ini dikenal memiliki biaya hidup tinggi, terutama di kota besar seperti Balikpapan dan Samarinda yang masuk jajaran kota termahal di Indonesia. Data BPS menunjukkan rata-rata pengeluaran rumah tangga di Balikpapan mencapai Rp9,87 juta per bulan, sementara di Samarinda Rp9,44 juta per bulan. Ironisnya, Upah Minimum Provinsi (UMP) Kaltim 2025 hanya berada di angka Rp3.579.313.

Ilustrasi foto GEN Z [Pinterest]

Melek Menabung, Sulit Konsisten

Saat ini, struktur demografi Indonesia didominasi oleh Gen Z sebanyak 71,5 juta jiwa, disusul Milenial dengan 69,7 juta jiwa berdasarkan Sensus Penduduk 2020.

Meski kerap dicap konsumtif dan hedonis, Gen Z dan Milenial sebenarnya memiliki kesadaran finansial yang cukup baik. Survei Populix yang dirilis Juli 2025 menunjukkan, 42 persen responden—didominasi Milenial—langsung menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Sementara 27 persen lainnya, mayoritas Gen Z, memilih menabung lebih dulu sebelum membelanjakan sisa pendapatan.

Namun, riset Rahma Hidayati dkk (2025) dari Indonesia Banking School mengungkapkan bahwa meski Gen Z memahami pentingnya menabung, tantangan terbesar mereka adalah menjaga disiplin dan konsistensi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Realitas Mengalahkan Romantisme

Sejumlah riset menunjukkan perubahan tajam dalam prioritas hidup anak muda. Data Big Alpha mencatat, sekitar 69,75 persen penduduk usia 16–30 tahun belum menikah pada 2024, angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.

BPS juga melaporkan tren serupa. Persentase anak muda yang belum menikah meningkat dari 59,8 persen pada 2020 menjadi 68,3 persen pada 2023. Penurunan angka pernikahan dini pun terus berlanjut.

Fenomena ini bukan berarti generasi muda menolak nilai keluarga, melainkan memilih bersikap realistis terhadap kondisi ekonomi. Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 dari IDN Research menyebutkan bahwa ketidakstabilan ekonomi—seperti ketidakpastian kerja dan mahalnya biaya hidup—menjadi faktor utama penundaan pernikahan dan keputusan memiliki anak.

Sekitar 63 persen Gen Z mengaku faktor ekonomi sangat memengaruhi pilihan hidup mereka. Prioritas utama kini bergeser pada kepemilikan dana darurat dan hunian pribadi. Ketakutan terbesar mereka adalah menjadi beban keluarga, terjebak dalam peran sandwich generation, serta tingginya biaya pernikahan dan pengasuhan anak.

Cinta Tak Cukup untuk Bayar Cicilan

Rara (25), karyawan swasta di Samarinda, mengungkapkan bahwa gajinya yang sedikit di atas UMR habis untuk kebutuhan sehari-hari dan membantu orang tua.

“Jujur, aku lebih takut saldo rekening habis daripada nggak punya pasangan. Jomblo paling cuma sepi sesekali, tapi nggak punya uang itu berat setiap hari. Aku nggak mau menikah kalau akhirnya cuma nambah beban pasangan atau bikin anakku hidup susah,” tuturnya.

Hal serupa dirasakan Dimas (29), seorang fotografer lepas di Balikpapan. Ia mengaku memilih menunda pernikahan tanpa target waktu pasti.

“Dulu orang tua bisa beli tanah dengan gaji sederhana. Sekarang, nabung lima tahun pun belum tentu cukup buat DP rumah. Realistis saja, cinta nggak bisa bayar KPR,” katanya.

Perspektif Psikolog: Bentuk Perlindungan Diri

Dosen Psikologi Universitas Mulawarman, Alfiesyahrianta Habibie, menilai fenomena ini bukan tanda memudarnya nilai kekeluargaan, melainkan bentuk rasionalitas ekonomi.

Menurut Alfie, penurunan angka pernikahan dipengaruhi oleh dua faktor utama: meningkatnya pemberdayaan perempuan dan tekanan ekonomi.

“Kemiskinan menjadi penghambat besar. Banyak pasangan menunda menikah karena kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” jelasnya.

Ia menambahkan, paparan media sosial juga memengaruhi cara pandang anak muda terhadap standar hidup. Mereka sadar bahwa membesarkan anak dengan kualitas pendidikan, gizi, dan kesehatan yang baik membutuhkan biaya besar.

“Banyak yang melihat langsung beratnya menjadi sandwich generation—menanggung orang tua sekaligus anak. Mereka ingin memutus siklus itu dengan memastikan kesiapan finansial terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Alfie, pernikahan kini tak lagi dipandang sebagai kewajiban sosial, melainkan sebuah pilihan yang membutuhkan kesiapan mental dan ekonomi. Dalam konteks ini, menikah dianggap sebagai sesuatu yang ‘mewah’.

Fenomena “lebih takut miskin daripada tidak menikah” menjadi sinyal penting bagi para pengambil kebijakan. Generasi muda Indonesia bukan menolak pernikahan, melainkan sedang berusaha bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang kian tak pasti.

Bagi mereka, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi adalah bentuk mencintai diri sendiri—sebelum membagi hidup dengan orang lain.

Source: Mahakama

Penulis: Ariel Yoga Praditya

Leave A Comment