AS Tarik Mundur Seluruh Armada Kapal Induk dari Timur Tengah, Ada Apa?

Last Updated: 7 Februari 2026By Tags: , , ,

sumber VFW

 

WASHINGTON D.C. – Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, wilayah perairan Timur Tengah dilaporkan mengalami “kekosongan” armada tempur laut Amerika Serikat. Pentagon secara resmi mengonfirmasi penarikan mundur kapal induk terakhir yang bertugas di kawasan tersebut, menandai pergeseran signifikan dalam postur pertahanan AS di tengah ketegangan regional yang masih membara.
Akhir dari Operasi Panjang
Kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72) beserta gugus tempurnya telah meninggalkan Laut Arab dan kini tengah menuju wilayah operasi Komando Indo-Pasifik. Sebelumnya, kapal induk ini dikerahkan secara mendesak untuk merespons ancaman eskalasi konflik antara Israel dan kelompok-kelompok yang didukung Iran.
Pejabat Departemen Pertahanan AS menyatakan bahwa langkah ini diambil sebagai bagian dari rotasi pasukan yang telah dijadwalkan dan kebutuhan untuk pemeliharaan armada. Penarikan ini menyusul kepulangan kapal induk lainnya, USS Theodore Roosevelt, yang lebih dulu meninggalkan kawasan tersebut.
Kekosongan Kekuatan yang Langka
Ketiadaan kapal induk di Timur Tengah merupakan fenomena yang jarang terjadi, mengingat AS hampir selalu menyiagakan setidaknya satu carrier strike group di sana untuk menjamin keamanan jalur perdagangan global, khususnya di Laut Merah dan Selat Hormuz.
Meskipun demikian, Pentagon menegaskan bahwa kemampuan tempur AS di kawasan tersebut tetap tangguh. “Kami masih memiliki kemampuan luar biasa di Timur Tengah, termasuk skuadron jet tempur, aset intelijen, dan kapal perang perusak yang tetap bersiaga,” tegas juru bicara militer AS.
Fokus Bergeser ke Indo-Pasifik?
Banyak analis menilai bahwa penarikan ini mempertegas fokus strategis Washington yang mulai beralih kembali ke persaingan kekuatan besar dengan Tiongkok di Indo-Pasifik. Dengan berakhirnya masa tugas USS Abraham Lincoln di Laut Arab, kapal ini akan bergabung dengan kekuatan armada AS lainnya di Pasifik untuk memperkuat kehadiran militer di wilayah yang dianggap paling krusial bagi keamanan nasional AS jangka panjang.
Namun, pengamat militer memperingatkan bahwa kekosongan ini dapat dimanfaatkan oleh aktor-aktor regional untuk meningkatkan provokasi, terutama di jalur pelayaran internasional yang rawan terhadap serangan kelompok Houthi.

Pernyataan Resmi Pentagon: “Kesiapan Tempur Tetap Terjaga”

 

Juru Bicara Pentagon, Mayor Jenderal Pat Ryder, dalam konferensi pers terbarunya menegaskan bahwa penarikan armada ini tidak berarti melemahnya pertahanan AS di kawasan tersebut. Ia menyatakan bahwa militer AS memiliki fleksibilitas tinggi untuk memindahkan aset tempur secara cepat jika terjadi keadaan darurat.

“Kami mempertahankan kemampuan komando dan kontrol yang luas di kawasan tersebut melalui aset darat, udara, serta keberadaan kapal perang perusak lainnya yang memiliki kemampuan pertahanan rudal canggih,” ujar Ryder dalam rilis resmi di U.S. Department of Defense.

 

Meskipun saat ini terjadi kekosongan kapal induk, Pentagon mengisyaratkan bahwa kelompok tempur kapal induk USS Harry S. Truman (CVN-75) yang saat ini berada di Samudra Atlantik berpotensi dikerahkan ke wilayah Mediterania atau mendekati Timur Tengah jika eskalasi meningkat kembali.

 

Langkah ini mempertegas strategi “Dynamic Force Employment” yang dianut AS, yaitu membuat pergerakan militer sulit diprediksi oleh lawan namun tetap menjamin keamanan bagi sekutu.

 

Leave A Comment