Benarkah Kopi Bisa Melawan Depresi? Ini Penjelasan Ahli

Image: Ilustrasi kopi

Aruna9news.com – Pernah merasa suasana hati jadi sedikit lebih cerah setelah menyeruput kopi? Di momen ketika tubuh dan pikiran sama-sama kelelahan, kopi kerap hadir sebagai penyelamat. Efeknya mirip tombol refresh: mata lebih segar, fokus meningkat, dan mood terasa lebih ringan.

Sejumlah penelitian berskala besar memang menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan risiko depresi yang lebih rendah. Namun, hal itu tidak berarti kopi mampu mencegah atau menyembuhkan depresi, ujar Ma-Li Wong, psikiater dari SUNY Upstate Medical University, seperti dikutip The New York Times, Bahkan, konsumsi berlebihan justru bisa memperburuk kondisi mental. Lalu, sebenarnya sejauh mana kopi memengaruhi suasana hati? Dan bagaimana cara menikmatinya tanpa menimbulkan dampak negatif?

HANYA EFEK KAFEIN?

Menurut Wong, kaitan antara konsumsi kopi dan berkurangnya gejala depresi tergolong lemah, dan manfaatnya jauh di bawah olahraga atau pengobatan antidepresan yang sudah terbukti secara ilmiah. Hingga kini, belum ada bukti kuat yang menunjukkan kopi bisa dijadikan terapi depresi.

Meski begitu, kafein tetap berfungsi sebagai stimulan. Zat ini meningkatkan aktivitas dopamin di otak, sehingga seseorang merasa lebih waspada, berenergi, dan mampu berkonsentrasi, jelas Ramin Mojtabai, psikiater sekaligus wakil ketua riset di Tulane University.

Efek inilah yang kerap menimbulkan perasaan lebih baik dalam jangka pendek, terutama pada jam-jam awal setelah bangun tidur.

“Kafein paling terasa manfaatnya saat tubuh sedang dalam kondisi kekurangan,” kata Laura Juliano, ketua departemen psikologi di American University. Kekurangan ini bisa berupa kurang tidur, kelelahan akibat pekerjaan, atau terlambat mengonsumsi kopi rutin. “Tegukan pertama di pagi hari biasanya terasa paling signifikan karena kondisi tubuh sedang berada di titik terendah,” ujarnya.

Namun, otak dapat beradaptasi terhadap asupan kafein yang rutin, sehingga efeknya perlahan berkurang.

Juliano menjelaskan bahwa pada peminum kopi harian, perbaikan mood setelah minum kopi sering kali hanya akibat hilangnya gejala putus kafein, seperti sakit kepala atau rasa lesu. Artinya, kopi lebih berfungsi mengembalikan kondisi ke level normal, meski tetap memberikan rasa nyaman.

Sebaliknya, peningkatan suasana hati lebih nyata dirasakan oleh mereka yang jarang minum kopi, karena toleransi terhadap kafein belum terbentuk.

Image: University of Michigan

PERLU UBAH KEBIASAAN MINUM KOPI?

Baik untuk meningkatkan mood maupun mengusir kantuk, kopi memang memberi kepuasan. Namun, kunci utamanya ada pada jumlah konsumsi, Setiap orang memproses kafein secara berbeda, tetapi satu hingga dua cangkir per hari umumnya dianggap cukup untuk memberi efek positif pada suasana hati, kata Mojtabai. Terlalu sedikit mungkin tidak terasa, sementara terlalu banyak justru bisa memicu gelisah dan kecemasan.

Pada sebagian orang, bahkan sedikit kafein dapat memperburuk kondisi mental, terutama bagi mereka yang mudah cemas atau minum kopi terlalu sore hingga mengganggu tidur. Karena itu, para ahli menyarankan untuk menghindari kafein enam hingga 12 jam sebelum waktu tidur. Jika sering merasa cemas, mengurangi konsumsi kopi juga patut dipertimbangkan.

Anak di bawah usia 12 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi kopi, sementara remaja usia 12–18 tahun perlu membatasi asupannya. Orang yang sedang mengonsumsi obat tertentu, termasuk stimulan dan beberapa obat psikiatri, juga dianjurkan berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin minum kopi karena kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko efek samping.

Bagi mereka yang mengalami gejala depresi, tetap disarankan mencari bantuan profesional, karena kopi maupun produk berkafein bukan solusi pengobatan, tegas Honglei Chen, epidemiolog dari Michigan State University.

Namun, jika kamu terbiasa minum satu hingga dua cangkir kopi setiap hari tanpa masalah kesehatan, kebiasaan tersebut tidak perlu dihentikan. Bagi banyak orang, kenikmatan kopi bukan hanya soal efeknya, tetapi juga rasa dan ritualnya. “Jika cocok untukmu, tidak ada yang salah,” kata Chen.

Sebaliknya, jika kamu bukan peminum kopi, tidak perlu mulai hanya demi memperbaiki suasana hati. Jika pun ada manfaatnya, efeknya relatif kecil, ujar Wong. Cara lain seperti tidur cukup, bersosialisasi, dan rutin beraktivitas fisik jauh lebih berdampak bagi kesehatan mental.

“Jika tujuan utamamu adalah memperbaiki mood,” tutup Wong, “olahraga tetap menjadi pilihan yang lebih efektif.”

Source: Cna.id

Leave A Comment