Fenomena Manifest: Keyakinan Menarik Energi Positif Disebut Mampu Mempermudah Tercapainya Keinginan

Ilustrasi Manifest (Aliya Lathifa / Aruna9news)
Aruna9news.com – Istilah manifest atau manifestation belakangan semakin populer di media sosial dan ruang diskusi publik. Konsep ini diyakini sebagai cara mewujudkan keinginan dengan menarik energi positif melalui pikiran, keyakinan, dan tindakan yang selaras. Banyak orang percaya bahwa ketika seseorang fokus pada hal baik, optimis, dan konsisten berusaha, peluang tercapainya keinginan akan semakin besar.
Dalam praktiknya, manifest sering dikaitkan dengan afirmasi positif, visualisasi tujuan, serta menjaga pola pikir yang optimis. Pendukung konsep ini meyakini bahwa pikiran memiliki pengaruh besar terhadap tindakan dan keputusan hidup, sehingga energi positif yang dibangun dapat membuka jalan menuju hasil yang diharapkan.
Namun, para ahli menegaskan bahwa manifest bukan sekadar berandai-andai atau berharap tanpa usaha. Manifest dinilai efektif ketika dibarengi dengan tindakan nyata, perencanaan, dan kedisiplinan, bukan hanya keyakinan semata.
Dalam perspektif Islam, konsep manifest memiliki kemiripan dengan ajaran niat, doa, ikhtiar, dan tawakal. Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu berawal dari niat yang baik, kemudian diikuti usaha sungguh-sungguh, serta diiringi doa dan penyerahan diri kepada Allah SWT.
Ajaran Islam juga menekankan pentingnya berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Sikap optimis, yakin terhadap pertolongan Tuhan, serta menjaga pikiran dan hati dari hal-hal negatif dipercaya dapat memengaruhi ketenangan jiwa dan semangat dalam berusaha.
Meski demikian, para ulama mengingatkan agar umat tidak terjebak pada pemahaman bahwa keinginan bisa tercapai hanya dengan kekuatan pikiran semata. Dalam Islam, hasil akhir tetap berada dalam kehendak Allah SWT, sementara manusia diwajibkan untuk berusaha sebaik mungkin dan tidak meninggalkan kewajiban agama.
Fenomena manifest dinilai positif jika dimaknai sebagai motivasi untuk berpikir optimis, memperbaiki diri, dan memperkuat usaha, tanpa mengesampingkan nilai spiritual dan etika. Sebaliknya, manifest bisa menjadi keliru apabila dijadikan alasan untuk bermalas-malasan atau mengabaikan realitas dan ketentuan agama.
Masyarakat diimbau untuk menyikapi tren manifest secara bijak, memadukan pikiran positif, usaha nyata, doa, dan kepasrahan kepada Tuhan, agar keinginan yang dicapai tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga membawa keberkahan.
Penulis : Aliya Lathifa Restu










