Benarkah Candi Borobudur Dibangun Tanpa Semen dan Menggunakan Putih Telur?

MAGELANG — Informasi mengenai pembangunan Candi Borobudur tanpa semen dan menggunakan putih telur kembali ramai beredar di media sosial. Klaim tersebut kerap disebut sebagai bukti kecanggihan teknologi kuno Nusantara.
Namun, bagaimana fakta ilmiahnya?
Dibangun Tanpa Semen Modern
Para ahli arkeologi membenarkan bahwa Borobudur memang tidak menggunakan semen seperti bangunan masa kini. Akan tetapi, hingga saat ini tidak ditemukan bukti bahwa putih telur digunakan sebagai bahan perekat batu.
Arkeolog Indonesia, Mundardjito, menjelaskan bahwa kekuatan Borobudur justru berasal dari teknik penyusunan batu.
“Borobudur tidak menggunakan perekat seperti semen. Batu-batunya dibuat saling mengunci melalui sistem konstruksi mekanis yang sangat presisi,” ujar Mundardjito dalam berbagai kajian arkeologi candi di Jawa.
Menurutnya, setiap batu andesit dipahat dengan ukuran tertentu sehingga dapat tersusun stabil tanpa bahan pengikat tambahan.
Teknologi Interlocking yang Mendahului Zaman
Candi yang dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 pada masa Dinasti Syailendra ini menerapkan teknik interlocking system, yakni metode sambungan tonjolan dan lubang antar batu.
Arkeolog sekaligus peneliti konservasi cagar budaya, Edi Sedyawati, menyebut teknologi tersebut menunjukkan tingkat perencanaan arsitektur yang tinggi.
“Keunggulan Borobudur terletak pada rekayasa struktur dan sistem drainasenya. Para pembangunnya memahami bagaimana air, beban, dan tanah bekerja terhadap bangunan,” jelas Edi Sedyawati.
Tidak Ada Bukti Putih Telur
Isu penggunaan putih telur kemungkinan muncul dari tradisi pembangunan kuno di beberapa wilayah yang memang memakai bahan organik seperti kapur atau getah tanaman.
Namun dalam proyek restorasi besar oleh UNESCO pada 1973–1983, para ahli membongkar sebagian struktur Borobudur untuk penelitian menyeluruh.
Hasil analisis menunjukkan tidak ditemukan residu perekat berbasis protein atau bahan organik seperti telur pada sambungan batu.
Warisan Rekayasa Leluhur Nusantara
Borobudur tersusun dari sekitar dua juta balok batu andesit yang dibangun di atas bukit alami dengan sistem distribusi beban bertingkat. Kombinasi teknik penguncian batu dan saluran drainase membuat bangunan ini mampu bertahan lebih dari 1.200 tahun di wilayah rawan gempa dan aktivitas vulkanik.
Kesimpulan
Klaim bahwa Borobudur dibangun menggunakan putih telur merupakan mitos populer yang tidak didukung bukti arkeologis.
Sebaliknya, kekuatan candi ini menjadi bukti kecanggihan teknologi arsitektur masyarakat Jawa Kuno yang mampu menciptakan bangunan monumental tanpa semen modern.











