WARTA PRIANGAN: Gengsi Menak di Udjung Telundjuk Kompeni

Last Updated: 31 Maret 2026By Tags: , , , , , ,

 

BATAVIA – Seringkali kita mendengar kabar tentang kemasjhurannya para Regent (Bupati) di tanah Pasundan. Konon, mereka ini adalah titisan dari radja-radja Sunda djaman dahulu kala. Maka tidak heran, djika dalam pergaulan sehari-hari, para Menak ini lagaknya sudah seperti Radja-Radja Ketjil. Segala kemewahan dipamerkan seolah-olah dunia ini milik nini-aki mereka sendiri.

Namun, di balik pakaian sutra dan upatjara yang megah itu, ada borok yang mulai tercium busuknja. Sebelah kaki mereka berpijak pada tradisi, tapi sebelah lagi terikat rantai besi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Tjerat Leher dari Buitenzorg
Selandjutnja, haruslah kita insjaf bahwa kekuasaan para Menak ini sebenarnja sudah dikebiri oleh tuan-tuan besar di Buitenzorg (Bogor). Sejak awal abad ke-19, Pemerintah Kolonial mulai “menjunat” hak-hak tradisional para bupati. Tanah-tanah ditjoba diambil alih, dan kekuasaan untuk memungut upeti langsung dari rakjat mulai dilarang.

Sebagai gantinja, para Menak ini didjadikan pegawai gadjian Kompeni. Sajang seribu sajang, pajit (gaji) dari kantor kolonial itu tentulah tidak tjukup untuk membiadjai gaja hidup mewah bak Radja. Akibatnja? Terdjadilah satu tragedi yang memilukan: demi tetap terlihat gagah di depan mata Kompeni dan rakjat, banjak di antara Menak ini yang terjerat hutang pada lintah darat atau, jang lebih djahat lagi, melakukan korupsi uang pajak rakjat.

Ini sungguh satu perbuatan yang memalukan muka bangsa sendiri! Mereka babak belur dipukul aturan Pemerintah Kolonial, namun tetap keras kepala memeluk kemewahan semu demi sebuah gengsi.

 

Nasib Menak di Era Baru
Zaman terus bergulir. Angin perubahan mulai bertiup dari Betawi hingga pelosok desa. Para Menak yang tjerdik mulai sadar bahwa mendjadi “boneka” Kompeni dengan gelar Radja sadja tidak tjukup untuk bertahan hidup. Mereka mulai mengirim anak-tjutjunja ke sekolah-sekolah Belanda, mentjoba masuk ke dalam sistem birokrasi modern agar tidak melulu didikte oleh para Assistent-Resident bangsa kulit putih.

Namun, bagi mereka yang tetap terpaku pada gaja lama—yang hanja tahu memerintah dan memeras keringat kaum ketjil demi menjenang-njenangkan hati tuan Belanda—ingatlah: rakjat makin pintar, dan zaman tidak lagi sudi menjembah pada bayangan masa lalu yang sudah usang.

Tidakkah kita malu, melihat “Radja-Radja Ketjil” kita ini sebenarnja hanja mendjadi pajung bagi kepentingan Pemerintah Kolonial? Mari kita renungkan bersama dalam tjangkir kopi pagi ini.

 

Leave A Comment