Ikan Sapu-sapu Ditertibkan di Jakarta, Jadi Santapan Bergizi di Amazon

Last Updated: 14 April 2026By Tags: , ,

Aruna9News.com, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan penertiban ikan sapu-sapu di sejumlah sungai dan saluran air di Ibu Kota. Langkah ini diambil karena ikan sapu-sapu tergolong spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

Ikan sapu-sapu dikenal mampu berkembang biak dengan cepat dan mendominasi habitat, sehingga mengancam keberlangsungan ikan lokal. Karena itu, penanganan intensif dilakukan untuk menjaga kualitas lingkungan sungai di Jakarta.

Namun di sisi lain, ikan yang kerap dianggap hama di Indonesia ini justru memiliki nilai konsumsi tinggi di wilayah lain, seperti di Sungai Amazon, Amerika Selatan. Di negara seperti Peru dan Ekuador, ikan sapu-sapu—yang dikenal dengan nama lokal carachama—menjadi salah satu sumber protein favorit masyarakat.

Ikan ini banyak dikonsumsi di berbagai wilayah Amazon, seperti Amazonas, Loreto, San Martín, Huánuco, Ucayali, hingga Madre de Dios. Carachama dewasa umumnya memiliki panjang sekitar 30 sentimeter dengan berat mencapai 300 gram, serta dikenal sebagai ikan berumur panjang.

Masyarakat setempat menyukai dagingnya yang berwarna putih, lembut, dan memiliki cita rasa khas. Bahkan, ikan ini kerap diolah menjadi hidangan tradisional, salah satunya caldo de carachama atau sup ikan sapu-sapu.

Sup tersebut dimasak dari ikan utuh dengan bumbu seperti garam, bawang putih, paprika manis, serta sachaculantro (ketumbar khas Amazon). Hidangan ini biasanya disajikan panas bersama yucca rebus atau pisang tanduk, serta dilengkapi sambal khas berbahan buah cocona, cabai, dan jeruk nipis.

Bagi masyarakat adat Kichwa dan komunitas mestizo, hidangan ini dipercaya sebagai makanan penambah stamina alami serta membantu mengatasi anemia.

Tak hanya dagingnya, telur ikan carachama yang berwarna kuning-oranye juga memiliki nilai gizi tinggi. Telur tersebut bahkan kerap dikonsumsi mentah layaknya kaviar dan menjadi camilan yang dihargai di kalangan masyarakat Amazon.

Perbedaan perlakuan terhadap ikan sapu-sapu ini menunjukkan bahwa nilai suatu spesies sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan cara pengelolaannya. Di perairan yang bersih dan terjaga, ikan ini dapat menjadi sumber pangan bergizi, sementara di lingkungan tercemar, keberadaannya justru dianggap merugikan.

Sumber: detik.com

Penulis: Annisa Ainaya Salsabila

Leave A Comment