Wolverhampton Wanderers Degradasi dari Premier League, Fokus Fosun Group ke Esports Jadi Sorotan Fans

Image: Tim Wolves
Aruna9news.com – Wolverhampton Wanderers dipastikan harus turun kasta dari Premier League setelah hasil imbang 0-0 antara West Ham United dan Crystal Palace memastikan peluang mereka untuk bertahan tertutup sepenuhnya, Saat ini, Wolves terbenam di dasar klasemen dengan raihan 17 poin. Dengan hanya lima pertandingan tersisa, mereka sudah tidak mungkin mengejar West Ham yang berada di posisi ke-17 dengan 33 poin, atau batas aman dari zona degradasi. Selisih poin yang terlalu jauh membuat nasib “Si Serigala” tak lagi bisa diselamatkan musim ini.
Degradasi ini menjadi pukulan besar bagi Wolves, mengingat mereka sempat bertahan selama delapan musim berturut-turut di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Bahkan, dalam beberapa musim sebelumnya, Wolves sempat tampil kompetitif dan bersaing di papan tengah hingga mendekati zona Eropa. Namun, performa tim terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir hingga akhirnya mencapai titik terendah musim ini, Penurunan performa ini tak lepas dari sorotan tajam para suporter terhadap pemilik klub, Fosun Group. Banyak fans menilai bahwa manajemen klub kurang memberikan perhatian serius terhadap tim sepak bola, dan justru lebih fokus mengembangkan sektor lain, terutama esports.
Kekecewaan suporter semakin memuncak karena mereka merasa klub tidak dikelola secara maksimal. Selain performa tim yang terus menurun, fans juga menyoroti kebijakan kenaikan harga tiket pertandingan kandang yang dinilai tidak sebanding dengan kualitas tim di lapangan. Di sisi lain, kondisi Molineux Stadium juga disebut minim pembaruan, yang semakin memperkuat kesan bahwa investasi terhadap klub tidak menjadi prioritas utama.
Sosok kunci dalam sorotan ini adalah Jeff Shi, perwakilan Fosun yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Komisaris Wolves. Ia disebut lebih memprioritaskan pengembangan bisnis esports karena dianggap memiliki potensi keuntungan yang lebih besar dibandingkan sepak bola. Tekanan dan kritik dari suporter akhirnya membuat Jeff Shi melepas jabatannya pada Desember lalu, yang kemudian digantikan oleh Nathan Shi.
Meski pihak Fosun menegaskan bahwa pengelolaan tim sepak bola dan esports berjalan secara terpisah, banyak suporter yang meragukan pernyataan tersebut. Mereka menilai fokus dan sumber daya klub tetap terbagi, sehingga berdampak pada performa tim utama di lapangan, Fosun sendiri telah membangun divisi Wolves Esports sejak 2019. Divisi ini berkembang pesat dan aktif di berbagai kompetisi game populer seperti Honor of Kings, Call of Duty, PUBG, hingga Valorant.
Menariknya, saat tim sepak bola mengalami kemerosotan, prestasi Wolves Esports justru terus menanjak. Salah satu pencapaian paling mencolok terjadi ketika tim Honor of Kings mereka berhasil mencapai Grand Final King Pro League 2025 di Beijing. Pertandingan tersebut digelar di stadion ikonik Beijing National Stadium dan dihadiri sekitar 62.000 penonton, bahkan mencatat rekor dunia Guinness sebagai salah satu event esports dengan jumlah penonton terbanyak.
Kontras antara performa tim sepak bola dan esports inilah yang semakin memicu kekecewaan suporter. Banyak yang merasa identitas utama klub sebagai tim sepak bola mulai terpinggirkan oleh kepentingan bisnis lain, Kini, setelah resmi terdegradasi, Wolves menghadapi tantangan besar untuk bangkit di musim depan. Mereka harus melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari manajemen, strategi tim, hingga komitmen pemilik klub dalam mengembalikan kejayaan di kompetisi sepak bola. Tanpa perubahan signifikan, bukan tidak mungkin Wolves akan kesulitan kembali ke Premier League dalam waktu dekat.
Source: Detik.com
Editor: Ariel Yoga Praditya










