Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Jadi Level Terlemah Sepanjang Sejarah

Last Updated: 13 Mei 2026By Tags: , , ,

Image : Dolar AS

Aruna9news.com – Nilai tukar rupiah resmi menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan 12 Mei 2026, menjadikannya titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan mata uang Indonesia. Pelemahan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan global.

Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh angka Rp17.520 per dolar AS. Level tersebut melampaui tekanan yang pernah terjadi saat pandemi COVID-19 pada 2020 maupun berbagai gejolak ekonomi global sebelumnya. Kondisi ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat karena berpotensi memengaruhi harga barang dan stabilitas ekonomi domestik.

Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal yang kembali memanaskan pasar keuangan dunia. Penguatan dolar AS disebut menjadi salah satu pemicu utama, ditambah meningkatnya ketegangan geopolitik antara United States dan Iran yang memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Pasar juga menyoroti ancaman konflik di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia. Ketidakpastian geopolitik tersebut memicu lonjakan harga minyak global dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar.

Jika melihat sejarah, Indonesia sebenarnya sudah beberapa kali menghadapi tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah. Krisis paling besar terjadi saat Krisis Moneter Asia 1998, ketika nilai tukar rupiah anjlok drastis dan memicu krisis ekonomi nasional. Tekanan serupa juga sempat terjadi saat krisis finansial global 2008 dan pandemi COVID-19 pada 2020.

Namun, level Rp17.500 per dolar AS kini menjadi rekor baru yang belum pernah ditembus sebelumnya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, hingga meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.

Sorotan publik kini tertuju pada langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta menjaga kestabilan likuiditas untuk menahan tekanan lebih lanjut terhadap mata uang nasional.

Para ekonom juga mengingatkan bahwa situasi global yang masih tidak pasti membuat volatilitas rupiah berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Oleh karena itu, kebijakan moneter, stabilitas geopolitik internasional, dan pergerakan pasar global akan menjadi faktor penting yang menentukan arah rupiah ke depan.

Leave A Comment