Sulit Move On dari Hubungan Toxic, Ini Alasan Banyak Orang Memilih Kembali ke Mantan Meski Pernah Diselingkuhi

Image : Ilustrasi

Aruna9news.com – Fenomena kembali menjalin hubungan dengan mantan pasangan meski hubungan sebelumnya penuh konflik, toxic, bahkan perselingkuhan, semakin sering menjadi perbincangan di media sosial. Banyak orang mempertanyakan mengapa seseorang tetap memilih kembali kepada mantannya dibanding membuka hati untuk orang baru, padahal luka emosional dari hubungan tersebut belum sepenuhnya hilang.

Psikolog menyebut keputusan untuk kembali kepada mantan bukan semata soal cinta, melainkan kombinasi antara keterikatan emosional, rasa nyaman, hingga ketakutan memulai hubungan baru. Dalam banyak kasus, seseorang merasa lebih “aman” kembali ke hubungan lama karena sudah mengenal karakter pasangannya, meski hubungan tersebut pernah menyakitkan.

Salah satu alasan terbesar adalah emotional attachment atau ikatan emosional yang terbentuk selama hubungan berlangsung. Semakin lama seseorang menjalin hubungan, semakin sulit otak melepaskan kebiasaan, rutinitas, dan rasa familiar terhadap pasangan tersebut. Hal ini membuat banyak orang merasa kehilangan sebagian hidupnya setelah putus, sehingga memilih kembali meski tahu hubungan itu tidak sehat.

Selain itu, hubungan toxic sering kali menciptakan pola “trauma bonding”, yaitu kondisi ketika seseorang menjadi terikat secara emosional melalui siklus luka dan perhatian. Dalam hubungan seperti ini, pertengkaran, manipulasi, dan rasa sakit justru diikuti momen-momen manis yang membuat korban sulit benar-benar pergi. Akibatnya, banyak orang tetap berharap pasangannya akan berubah dan hubungan mereka bisa membaik.

Perselingkuhan pun tidak selalu langsung menghapus perasaan cinta. Beberapa orang memilih memaafkan karena merasa telah menginvestasikan terlalu banyak waktu, tenaga, dan emosi dalam hubungan tersebut. Ada juga yang takut tidak akan menemukan pasangan baru yang bisa memahami mereka seperti mantan mereka dulu.

Faktor kesepian juga menjadi alasan penting. Setelah putus, sebagian orang merasa kosong dan tidak siap menghadapi proses mengenal orang baru dari awal. Membuka hati kembali dianggap melelahkan, terutama setelah mengalami kegagalan hubungan. Karena itu, kembali kepada mantan terasa seperti jalan tercepat untuk menghilangkan rasa kehilangan.

Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Banyak konten romantisasi “balikan sama mantan” yang membuat hubungan lama terlihat lebih indah dibanding kenyataannya. Kenangan baik sering kali lebih diingat dibanding alasan mengapa hubungan tersebut berakhir.

Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa kembali dengan mantan bukan selalu keputusan yang salah, selama kedua pihak benar-benar berubah dan memperbaiki pola hubungan yang sebelumnya merusak. Namun jika hubungan dipenuhi manipulasi, kekerasan emosional, atau perselingkuhan berulang, kembali bersama justru dapat memperpanjang luka psikologis.

Pada akhirnya, keputusan bertahan atau pergi dari hubungan toxic sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar “belum move on”. Banyak orang sebenarnya sedang berjuang antara rasa cinta, harapan, ketakutan, dan kebutuhan emosional yang belum sepenuhnya selesai.

Leave A Comment