Dosen dan Mahasiswa Universitas Esa Unggul Kembangkan GIOT-PVC, Teknologi IoT Pengolah Sampah Organik untuk Dukung Ekonomi Hijau
Esaunggul.ac.id, Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah di Indonesia. Limbah makanan rumah tangga, pasar, hingga komunitas sering kali berakhir di tempat pembuangan tanpa pengelolaan yang optimal, sehingga memicu pencemaran lingkungan, emisi gas, serta hilangnya potensi nilai ekonomi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Universitas Esa Unggul mengembangkan inovasi Green IoT-based Portable Vermicomposting (GIOT-PVC), sebuah model pengelolaan sampah organik berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan proses pengomposan dipantau secara real-time dan lebih efisien.
Penelitian yang dilaksanakan melalui skema Penelitian Terapan – Luaran Model ini dipimpin oleh Dr. Vitri Tundjungsari, S.T., M.Sc., M.M., dosen Program Studi Magister Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Esa Unggul. Tim peneliti turut diperkuat oleh Sri Mulyana, Ary Prabowo, Muji Lestari, S.T., M.T., M.Sc., dan Yuris Sarifudin, S.T. sebagai anggota peneliti.
Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa Universitas Esa Unggul, yaitu Syafika Zalfanissa Dila dan Hisyam Fausta, sebagai bagian dari upaya penguatan budaya riset dan pembelajaran berbasis inovasi yang terus dikembangkan di lingkungan universitas.
Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST, MBA, IPU, ASEAN Eng., menyampaikan bahwa pengembangan teknologi ramah lingkungan berbasis digital merupakan salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
“Universitas Esa Unggul terus mendorong lahirnya inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Pengembangan teknologi pengelolaan sampah berbasis IoT ini menunjukkan bagaimana riset dapat berkontribusi langsung terhadap pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Inilah bentuk nyata komitmen kami dalam menghasilkan inovasi yang berdampak dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” ujar Arief.
GIOT-PVC dikembangkan menggunakan pendekatan Design Science Research Methodology (DSRM) yang meliputi identifikasi masalah, perancangan solusi, pembangunan prototipe, evaluasi, pembelajaran, hingga diseminasi hasil penelitian. Sistem ini mengintegrasikan berbagai sensor digital seperti sensor suhu, kelembaban, pH, dan gas yang memungkinkan pengguna memantau kondisi proses vermicomposting secara langsung melalui dashboard digital.
Dalam proses pengembangannya, tim peneliti bekerja sama dengan Daurulang.id di wilayah Yogyakarta–Klaten sebagai mitra implementasi lapangan. Melalui observasi dan pendampingan langsung, tim memperoleh berbagai masukan mengenai tantangan pengelolaan sampah organik yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Hasil penelitian berhasil menghasilkan lima model prototipe GIOT-PVC dengan spesifikasi yang berbeda sesuai kebutuhan pengguna. Model dasar dilengkapi sensor suhu, kelembaban, pH, dan gas, sementara model lanjutan telah terintegrasi dengan kamera pemantau, sistem time-lapse, kamera termal, hingga sensor suhu non-kontak portabel. Seluruh perangkat terhubung dalam sistem monitoring berbasis IoT sehingga perkembangan proses pengomposan dapat dipantau kapan saja dan dari mana saja.
Pengujian yang dilakukan pada laboratorium maupun lingkungan nyata menunjukkan hasil yang menjanjikan. Selama periode pengamatan 14 hari, sistem mampu menjaga suhu media kompos pada rentang optimal 28–36 derajat Celsius, mempertahankan kelembaban yang sesuai, serta mendorong peningkatan pH menuju kondisi netral yang ideal bagi aktivitas cacing dan mikroorganisme pengurai.
Selain itu, sensor gas menunjukkan tren penurunan bau secara bertahap yang mengindikasikan proses dekomposisi berlangsung dengan baik. Meskipun menghadapi tantangan berupa perubahan cuaca dan fluktuasi kelembaban lingkungan, sistem tetap mampu mempertahankan kondisi yang mendukung proses vermicomposting secara optimal.
Tidak hanya dari aspek teknis, penelitian juga mengevaluasi dampak sosial dan ekonomi dari penggunaan teknologi tersebut. Dashboard pemantauan real-time membantu pengguna memahami kondisi kompos secara lebih mudah dibandingkan metode konvensional. Fitur visualisasi berbasis kamera dan time-lapse juga memberikan gambaran perkembangan kompos yang lebih intuitif sehingga proses monitoring menjadi lebih efektif.
Dari sisi lingkungan, GIOT-PVC berkontribusi dalam mengurangi bau dan limbah organik yang terbuang. Sementara dari sisi ekonomi, sistem ini membuka peluang peningkatan kualitas dan kuantitas produksi kompos serta budidaya cacing tanah yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha pengelolaan sampah.
Sebagai luaran penelitian, tim berhasil menghasilkan lima prototipe GIOT-PVC, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Program Komputer yang telah granted, serta dokumen Feasibility Study (FS) yang dapat menjadi dasar pengembangan dan implementasi lebih luas. Selain itu, penelitian juga menghasilkan luaran tambahan berupa sertifikat desain produk yang saat ini masih dalam proses peninjauan.
Melalui pengembangan GIOT-PVC, Universitas Esa Unggul kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi berbasis teknologi yang tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga mendorong transformasi menuju ekonomi hijau. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah organik modern yang dapat diterapkan oleh masyarakat, institusi pendidikan, pemerintah daerah, maupun pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia.
Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University Merupakan World Class University
Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University merupakan perguruan tinggi swasta terkemuka yang berkomitmen menjadi world-class entrepreneurial university.
Didirikan pada tahun 1993, Universitas Esa Unggul saat ini memiliki:
- 10 Fakultas
- 42 Program Studi, terdiri dari:
- 24 Program Sarjana/Sarjana Terapan
- 2 Program Diploma
- 5 Program Profesi
- 9 Program Magister
- 1 Program Doktor
- 1 Program Sarjana PJJ Teknik Informatika (full online)
Universitas Esa Unggul memiliki lebih dari 19.000 mahasiswa yang berasal dari 37 provinsi di Indonesia dan 8 negara, dengan dukungan ekosistem pendidikan modern berbasis inovasi dan kolaborasi global. Dalam penguatan kualitas pendidikan dan internasionalisasi, Universitas Esa Unggul tergabung dalam CINTANA Alliance, jejaring global perguruan tinggi yang dimotori oleh Arizona State University (ASU), yang memungkinkan akses pada praktik pendidikan tinggi kelas dunia, inovasi pembelajaran digital, pengembangan kurikulum global, penelitian, serta kolaborasi internasional.
Sebagai bagian dari pengembangan institusi, Universitas Esa Unggul juga menghadirkan Global Innovation Hub (GI Hub) di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, yang dikembangkan dengan konsep Urban Academic Hub untuk mendukung pembelajaran berbasis industri, riset, inovasi, technopark, entrepreneurship, serta kolaborasi dunia usaha dan industri.
Universitas Esa Unggul telah memperoleh Akreditasi Perguruan Tinggi “UNGGUL” dari BAN-PT, dengan 18 program studi berakreditasi UNGGUL dan sejumlah program studi yang telah meraih akreditasi internasional. Dalam bidang reputasi akademik dan institusi, Universitas Esa Unggul mencatat berbagai capaian nasional dan internasional, di antaranya:
- Peringkat 69 SINTA Nasional
- Peringkat 6 Jakarta & 62 Nasional versi EduRank 2026
- GreenMetric: Peringkat 2 Jakarta, 29 Nasional, dan 203 Internasional
- Berbagai penghargaan nasional melalui Anugerah Diktisaintek Kemendiktisaintek
Didukung budaya riset yang kuat, Universitas Esa Unggul aktif menghasilkan publikasi ilmiah, buku, hak kekayaan intelektual, inovasi, serta penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdampak bagi pembangunan nasional dan global.
Berita selengkapnya dapat Anda akses melalui esaunggul.ac.id – aruna9news.com













