Dua Lipa Resmikan Manifesto Library di Portugal, Hadirkan 100 Buku yang Pernah Dilarang dan Disensor

Image : Dua Lipa
Aruna9news.com – Penyanyi sekaligus penulis lagu Dua Lipa resmi membuka Manifesto Library, sebuah perpustakaan yang didedikasikan untuk buku-buku yang pernah dilarang, disensor, atau dibatasi peredarannya di berbagai negara. Peresmian dilakukan pada Sabtu (27/6/2026) di Livraria Lello, Kota Porto, Portugal, sebagai bagian dari upaya mendorong kebebasan berekspresi dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya akses terhadap literatur.
Manifesto Library merupakan hasil kolaborasi antara Service95 Book Club, komunitas literasi yang didirikan Dua Lipa, dengan Livraria Lello, salah satu toko buku paling bersejarah dan ikonik di Portugal. Perpustakaan tersebut diresmikan dalam rangka festival literasi BABELL – City of Books dan selanjutnya akan menjadi koleksi permanen yang dapat diakses oleh para pengunjung.
Melalui proyek ini, Dua Lipa menghadirkan sekitar 100 buku yang memiliki sejarah panjang sebagai karya yang pernah mengalami pelarangan, penyensoran, atau pembatasan distribusi di berbagai belahan dunia. Koleksi tersebut dipilih untuk menunjukkan bagaimana sebuah buku dapat menjadi medium penting dalam menyampaikan gagasan, sekaligus menjadi sasaran ketika kebebasan berekspresi dibatasi.
Buku-buku yang dipamerkan mengangkat beragam isu sosial dan kemanusiaan, mulai dari ras, seksualitas, identitas, hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, hingga kritik terhadap kekuasaan. Beberapa judul bahkan pernah ditarik dari peredaran, sementara sejumlah penulisnya menghadapi ancaman maupun tekanan akibat isi karya yang mereka terbitkan.
Seluruh koleksi dikurasi ke dalam empat tema utama, yaitu power, control, voice, dan memory. Pembagian tersebut bertujuan memudahkan pengunjung memahami berbagai bentuk perjuangan yang tercermin dalam karya-karya sastra dari berbagai negara dan latar belakang.
Di antara buku yang menjadi bagian dari Manifesto Library terdapat novel The Handmaid’s Tale, karya-karya Salman Rushdie, Olga Tokarczuk, hingga Felon karya Reginald Dwayne Betts. Judul-judul tersebut dipilih karena dinilai memiliki pengaruh besar dalam membuka diskusi mengenai kebebasan, identitas, keadilan sosial, dan hak setiap individu untuk menyampaikan gagasan.
Dalam pernyataannya, Dua Lipa mengatakan bahwa Manifesto Library dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada para penulis yang berani menyuarakan pemikiran mereka melalui karya sastra. Ia berharap perpustakaan ini dapat menjadi ruang yang menjaga agar buku-buku penting tetap tersedia bagi publik meski pernah menghadapi berbagai bentuk pembatasan.
Menurutnya, membaca bukan hanya sekadar menikmati sebuah cerita, tetapi juga merupakan cara untuk memperluas perspektif, melatih kemampuan berpikir kritis, serta memahami realitas dari berbagai sudut pandang. Di tengah masih maraknya praktik pelarangan dan penyensoran buku di sejumlah negara, akses terhadap literatur dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga kebebasan berekspresi.
Kehadiran Manifesto Library pun mendapat sambutan positif dari komunitas literasi dan para penggemar Dua Lipa. Banyak yang menilai proyek tersebut menunjukkan komitmen sang musisi dalam mendukung dunia pendidikan, sastra, dan kebebasan intelektual di luar kariernya sebagai penyanyi.
Melalui Manifesto Library, Dua Lipa kembali memperluas perannya sebagai figur publik yang tidak hanya aktif di industri musik, tetapi juga berkontribusi dalam mendorong budaya membaca dan mempertahankan ruang bagi karya-karya yang memiliki nilai historis maupun sosial bagi masyarakat dunia.










