Wisata Religi ke Masjid Jami Al Khusaeni Carita, Tetap Kokoh Sejak 1889

Menengok sejarah Masjid Jami Al Khusaeni Carita (Masjid Agung Carita). Cagar budaya bersejarah tahun 1889 yang dibangun pasca-erupsi Krakatau.
PANDEGLANG, Aruna9news.com— Riuh rendah suara ombak Selat Sunda sayup-sayup terdengar dari selasar Masjid Jami Al Khusaeni. Berdiri kokoh di Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, bangunan ibadah ini bukan sekadar tempat bersujud. Ia adalah monumen hidup, sebuah artefak sejarah yang merekam titik balik bangkitnya peradaban masyarakat pesisir barat Banten dari salah satu bencana alam terbesar dunia.
Masjid Jami Al Khusaeni, atau yang kerap dijuluki masyarakat setempat sebagai Masjid Agung Carita, memikul narasi panjang yang bermula sejak akhir abad ke-19.
Berdasarkan catatan sejarah setempat, masjid ini didirikan pada tahun 1889—tepat enam tahun setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 meluluhlantakkan kawasan tersebut. Sang pelopor adalah KH Muhammad Husein, seorang ulama kharismatik yang juga merupakan murid langsung dari mahaguru di Nusantara dan Mekkah, Syekh Nawawi Al-Bantani.
Kehadiran masjid ini kala itu menjadi pemantik utama kembalinya kehidupan masyarakat yang sempat tercerai-berai akibat tsunami dan abu vulkanik Krakatau.

tampak jamaah sedang sholat di dalam
Harmoni Arsitektur Tiga Zaman
Melangkah ke area dalam masjid, pengunjung akan langsung merasakan hembusan angin laut berpadu interior yang sejuk. Struktur bangunan menampilkan keunikan arsitektur yang langka: perpaduan estetika tradisional Jawa-Banten dengan sentuhan kolonial Barat.
Atap tumpang (punden berundak) khas Nusantara yang menjadi simbol spiritualitas masa lalu, berpadu serasi dengan pilar-pilar kokoh bergaya eropa abad pertengahan. Dinding tebal dengan jendela-jendela besar memastikan sirkulasi udara tetap terjaga, memberikan ketenangan magis bagi setiap jemaah yang masuk.
Atas nilai historis dan keunikan visualnya yang tak lekang waktu, pemerintah kini telah menetapkan Masjid Jami Al Khusaeni sebagai salah satu situs Cagar Budaya yang dilindungi.

Mimbar Kuno
Magnet Wisata Religi Pesisir Banten

Tempat Wudhu Ikonik
Di balik statusnya yang sakral, posisinya yang strategis di tepi jalan raya utama Carita menjadikan masjid ini sebagai magnet wisata religi. Tak hanya warga lokal, wisatawan yang tengah berlibur di kawasan Pantai Carita kerap singgah. Sebagian besar datang untuk menunaikan salat, sementara sebagian lainnya sengaja datang untuk berziarah ke kompleks makam KH Muhammad Husein yang terletak di sisi barat masjid.
Kekaguman terhadap ketangguhan bangunan tua ini tidak hanya datang dari para sejarawan, melainkan juga dari para pelancong yang singgah. Rendy, salah satu pengunjung yang sengaja beristirahat di sela-sela liburannya di Pantai Carita, mengaku takjub dengan nilai historis yang memancar dari setiap sudut bangunan.
“Luar biasa sekali melihat masjid antik ini. Bayangkan, dibangun sejak tahun 1889 dan sampai sekarang masih tegak berdiri sekokoh ini. Rasanya ada kedamaian tersendiri saat beribadah di dalam bangunan yang sekaya ini sejarahnya,” ujar Rendy saat ditemui di pelataran masjid.
Kini, di tengah modernisasi kawasan wisata Banten, Masjid Jami Al Khusaeni Carita tetap berdiri anggun. Ia menjadi pengingat abadi bahwa di atas tanah yang pernah lumat oleh bencana, iman dan gotong royong mampu membangun kembali sebuah peradaban.











