Menjaga Paru-paru Terakhir Selat Sunda di Tahura Carita

PANDEGLANG, Aruna9news — Dari balik rimbunnya kanopi pohon Meranti Tembaga dan keunikan vegetasi pohon Pulai di lereng Kompleks Hutan Gunung Aseupan, suara riuh satwa liar bersahutan memecah keheningan pagi. Di sinilah Taman Hutan Raya (Tahura) Banten, sebuah benteng hijau seluas sekitar 1.595,9 hektar, berdiri tegak menjaga keseimbangan ekosistem pesisir barat Pulau Jawa.
Kawasan yang membentang di wilayah Desa Sukarame, Sukanagara, Cinoyong, hingga Kawoyang di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang ini, bukan sekadar hamparan hutan tropis biasa. Ia adalah dinding pertahanan alam sekaligus sandaran ekonomi yang krusial bagi masyarakat lokal.
Dahulu, sebelum ditetapkan lewat Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: SK.221/Menhut-II/2012, wilayah ini berstatus sebagai hutan produksi dan sebagian merupakan Taman Wisata Alam (TWA) Carita. Alih fungsi menjadi Tahura menegaskan satu mandat penting: melindungi sistem penyangga kehidupan, melestarikan keanekaragaman hayati, dan memanfaatkannya secara berkelanjutan demi masa depan Banten.
Oase Biodiversitas dan Pesona Air Terjun

Memasuki jantung Tahura Banten, kita akan disuguhi keajaiban alam yang masih perawan. Hutan ini menjadi rumah bagi flora langka, mulai dari pohon Meranti berukuran raksasa dengan diameter mencapai 175 sentimeter hingga pohon Pulai “unik beranak” yang berbatang tiga. Keberadaan kupu-kupu eksotis seperti Ypthima baldus (lima cincin) juga menjadi indikator bahwa kualitas ekosistem hutan konservasi ini masih terjaga dengan sangat baik.
Namun, magnet utama yang paling memikat para petualang di dalam kawasan konservasi ini adalah Curug Putri. Air terjun yang tersembunyi jauh di dalam hutan ini kerap dijuluki sebagai The Little Grand Canyon dari Banten.
Untuk mencapainya, pengunjung harus melakukan tracking menyusuri aliran sungai berair jernih diapit oleh tebing-tebing batu berkelok yang megah. Sensasi magis menyusuri lorong tebing alam tersebut menjadi daya tarik minat khusus yang selalu ramai memikat wisatawan pencinta alam.
Merajut Integrasi Wisata dan Ekonomi Rakyat
Letak geografis Tahura Banten yang berhadapan langsung dengan garis pantai wisata Carita membuka peluang emas. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) mulai serius mengonsep kawasan ini menjadi destinasi wisata terpadu yang memadukan keindahan laut dan keasrian hutan (integrated eco-tourism).
“Tahura Banten ini luar biasa, semua bisa kita optimalkan untuk mendukung ekonomi masyarakat lokal,” ujar Gubernur Banten Andra Soni saat meninjau langsung pengelolaan kawasan ekowisata terpadu tersebut.
Optimalisasi ini dilakukan dengan melibatkan Komunitas Peduli Pariwisata Carita serta tokoh masyarakat adat setempat. Alih-alih mengeksploitasi kayu, masyarakat kini didorong menjadi garda terdepan sebagai pemandu wisata, penyedia jasa amenitas, pembudidaya, hingga pelindung kelestarian hutan dari ancaman perambahan liar.
Menjaga Tahura Carita tetap lestari bukan lagi sekadar urusan birokrasi pemerintahan. Di tengah ancaman pemanasan global dan penyusutan lahan hijau di Pulau Jawa, keberadaan benteng ekologi di ujung barat Banten ini adalah warisan hidup. Di tanah Carita, masyarakat membuktikan bahwa merawat rimba tidak harus membuat perut lapar; justru dari tegakan hutan yang lestari, kesejahteraan hidup mengalir tanpa henti.











