Asal-Usul “Passacaglia” Jejak Mahakarya Instrumental Johann Sebastian Bach dari Eropa ke Jakarta

passacaglia – Handel/ Halvorsen (Relaxing Piano Music)
Aruna9news.com – Sekitar seabad silam, alunan musik ini menggema megah di gedung-gedung pertunjukan ternama Eropa—dari Palais Garnier di Paris, Vienna State Opera di Wina, hingga Teatro alla Scala di Italia, Pada masa itu, hampir seluruh musisi di Eropa, bahkan dunia, mengagumi karya agung ini. Komposer Jerman, Robert Schumann, pernah memuji komposisi tersebut dengan mengatakan bahwa setiap nadanya terangkai begitu indah hingga siapa pun yang mendengarnya tak henti dibuat takjub.
Lebih dari seratus tahun lalu, penciptanya, Johann Sebastian Bach, mendapatkan inspirasi untuk menulis karya ini setelah menetap di kota kecil Luebeck, di utara Jerman. Bahkan 42 tahun silam, penggalan komposisi ini turut menghiasi deretan musik latar film legendaris The Godfather yang mengisahkan dunia mafia dan mendunia.
Begitulah perjalanan panjang yang mengiringi lahirnya “Passacaglia”, salah satu karya terpenting Bach. Ditulis pada awal abad ke-18, istilah passacaglia sendiri berasal dari bahasa Spanyol—pasar yang berarti berjalan dan calle yang berarti jalan. Sejak kemunculannya, komposisi ini diakui sebagai salah satu mahakarya musik pasca-Abad Pertengahan dan sempat populer di kalangan musisi Italia.

Image: ilustrasi orang bermain piano
Pada zamannya, Passacaglia termasuk pertunjukan berkelas. Di Indonesia, karya ini kemungkinan hanya pernah dimainkan secara eksklusif di Societeit de Harmonie, ruang pertemuan elite di Batavia yang menjadi tempat bersosialisasi kalangan meneer, mevrouw, hingga bangsawan pribumi. Menikmati konser kala itu bukan perkara murah—hanya mereka yang dekat dengan pemerintahan kolonial yang bisa duduk menyaksikan gesekan biola dan tiupan harmonika secara langsung.
Kini, suasananya berbeda. Passacaglia kembali menggema di Jakarta dalam sebuah pergelaran musik kolaborasi dua negara. Bertempat di Erasmus Huis, pusat kebudayaan Kedutaan Besar Belanda, komposer Belanda Gerard Beljon menghadirkan karya ini untuk penikmat musik Tanah Air. Ia menyebut pertunjukan tersebut sebagai upaya menyuguhkan penampilan musik berkelas di Jakarta.
Menariknya, dalam konser yang digelar Senin (22/9) itu, “Passacaglia” tampil sebagai salah satu pembuka dan dimainkan menggunakan akordeon. Instrumen yang mengandalkan tekanan tangan untuk mengalirkan udara ini memberi warna baru pada komposisi klasik tersebut, membuat setiap nadanya terasa lebih hidup dan segar di telinga penonton masa kini.
Penulis: Ariel Yoga Praditya










