Bukber Jamaah Umroh Isra Mi’raj Esa Unggul 2025: Cerita Koper, Tawaf, hingga Rektor yang Ikut Rombongan di Detik Terakhir
Jakarta Barat — Ramadhan selalu menghadirkan ruang untuk kembali menghangatkan kenangan. Bagi Jamaah Umroh Isra Mi’raj Universitas Esa Unggul tahun 2025, bulan suci ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali cerita perjalanan spiritual yang tak hanya penuh ibadah, tetapi juga persaudaraan.
Kebersamaan itu terasa dalam acara buka puasa bersama jamaah yang digelar pada 26 Februari 2026 di Hotel 88 Jakarta Barat. Kegiatan rutin tahunan yang diinisiasi oleh Dr. Ayu Larasati, S.Sos., M.Ikom ini dihadiri enam jamaah dari total sebelas peserta umroh.
Hadir dalam kesempatan tersebut Dr. Erlina Puspitaloka Mahadewi, SE, MM, Dr. Ir. Nofierni, MM, Ns. Abdurrasyid, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Ko, Firdaus, SE, MAK, serta Rendy Zubhan Ramadhani, SE, MM, sementara beberapa jamaah lainnya berhalangan hadir.
Namun malam itu, yang hadir bukan hanya orang-orang — melainkan kembali hidupnya cerita-cerita Tanah Suci yang sulit dilupakan.
Pak Rasyid dan Koper yang Tak Mau Terbuka

Salah satu kisah yang kembali memancing tawa adalah ketika Pak Rasyid mendadak menjadi “teknisi koper” selama perjalanan umroh.
Sebuah koper jamaah tiba-tiba tak dapat dibuka. Di tengah keterbatasan alat di hotel, beliau mencoba berbagai cara hingga akhirnya koper tersebut berhasil terbuka. Sejak saat itu, Pak Rasyid dikenal sebagai penyelamat darurat urusan logistik jamaah.
Cerita koper rupanya tak berhenti di situ. Ada koper yang tertinggal di Bandara Madinah, bahkan ada pula koper jamaah yang tanpa sengaja berpindah ke kamar lain dan sempat membuat pemiliknya panik.
Kini, semua justru menjadi kenangan yang mengundang senyum.
Belanja Satu Real dan Hangatnya Thaif
Perjalanan menuju Kota Thaif menjadi salah satu momen paling berkesan. Jamaah mengenang keseruan berburu oleh-oleh di toko “satu realan”, tempat sederhana yang justru menghadirkan kegembiraan tersendiri.
Perjalanan itu ditutup dengan menikmati hidangan khas Timur Tengah, nasi mandhi, yang disantap bersama di tengah udara sejuk Thaif — menghadirkan rasa kebersamaan yang sulit diulang di tempat lain.
Jamaah Tertinggal Saat Tawaf dan Harunya Tawaf Wada
Di tengah padatnya Masjidil Haram, salah satu jamaah sempat terpisah dari rombongan saat tawaf. Kekhawatiran sempat muncul, namun akhirnya seluruh jamaah kembali berkumpul.
Momen paling menggetarkan tetap terjadi saat Tawaf Wada. Tangis perpisahan tak terhindarkan ketika jamaah menyadari perjalanan di Makkah akan segera berakhir.
Kerinduan itu sedikit terobati ketika pada hari terakhir di Madinah, jamaah mendapatkan kesempatan berharga memasuki Raudhah — doa yang sejak awal perjalanan terus diharapkan.
Cerita Paling Seru: Rektor Ikut di Detik Terakhir
Salah satu cerita yang paling sering diulang dalam buka puasa bersama tersebut adalah kejadian tak terduga menjelang keberangkatan ke Madinah.
Tanpa banyak diketahui sebelumnya, Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST, MBA, IPU, ASEAN Eng., bersama sang istri secara last minute bergabung dengan jamaah dan berangkat menuju Madinah dalam rombongan yang sama.
Keikutsertaan beliau yang terjadi di detik-detik terakhir menjadi kejutan tersendiri bagi para jamaah. Suasana perjalanan pun terasa berbeda — penuh keakraban dan cerita baru yang hingga kini masih dikenang sebagai salah satu momen paling seru selama umroh.
Di Tanah Suci, perjalanan itu seakan menegaskan bahwa semua jamaah berjalan dalam posisi yang sama: sebagai tamu Allah yang dipersatukan oleh niat ibadah.
Ramadhan dan Kerinduan yang Kembali Hidup

Buka puasa bersama malam itu menjadi lebih dari sekadar reuni tahunan. Ia berubah menjadi ruang berbagi rasa — tentang perjalanan, kebersamaan, ujian kecil selama ibadah, hingga tawa yang lahir dari pengalaman sederhana.
Dari koper yang tertinggal, perjalanan Thaif, tawaf perpisahan, hingga kisah keberangkatan mendadak sang rektor, seluruh cerita bermuara pada satu hal yang sama:
kerinduan pada Makkah dan Madinah.
Kerinduan untuk kembali menjadi tamu Allah, berjalan bersama dalam rombongan yang sama, di perjalanan spiritual berikutnya.












