Camilan Rendah Kalori Bisa Menjebak Jika Komposisi Gizinya Diabaikan

Label “rendah kalori” kerap membuat seseorang merasa lebih yakin bahwa camilan yang dipilih aman untuk dikonsumsi. Padahal, jumlah kalori hanyalah satu dari sekian banyak aspek yang menentukan apakah sebuah camilan benar-benar sehat. Dalam praktiknya, banyak camilan yang dianggap sehat hanya karena kalorinya rendah, meski kandungan gula, garam, dan lemak di dalamnya dapat berdampak buruk pada kesehatan metabolik jika dikonsumsi secara rutin.
Dalam pola makan seimbang, camilan berfungsi sebagai selingan di antara waktu makan utama. Kontribusi energi dari camilan umumnya dianjurkan sekitar 10–15 persen dari total kebutuhan kalori harian. Jika kebutuhan energi harian rata-rata berada di angka 2.500 kkal, maka satu porsi camilan idealnya berkisar antara 250 hingga 375 kkal. Jumlah tersebut cukup untuk menahan rasa lapar, menjaga fokus, serta mencegah makan berlebihan saat waktu makan berikutnya.
Meski demikian, angka kalori tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur. Dua camilan dengan jumlah kalori yang sama bisa memberikan dampak yang berbeda pada tubuh. Misalnya, kalori dari minuman manis tidak akan memberikan efek kenyang dan manfaat nutrisi yang sama seperti kalori dari buah segar atau kacang-kacangan.
Kalori sendiri merupakan satuan energi dari makanan. Banyak orang terlalu berfokus membatasi kalori agar terhindar dari kenaikan berat badan. Padahal, tubuh juga memerlukan zat gizi lain untuk mendukung kerja sel, hormon, dan sistem metabolisme. Perbedaan komposisi gizi membuat respons tubuh terhadap camilan dengan kalori serupa bisa sangat berlainan.
Camilan yang sehat sebaiknya mengandung beberapa unsur penting. Serat berperan menjaga kestabilan gula darah, memperpanjang rasa kenyang, dan mendukung kesehatan pencernaan. Protein membantu menahan lapar lebih lama serta menjaga massa otot. Sementara itu, lemak sehat seperti lemak tak jenuh berfungsi menjaga pasokan energi dan membantu penyerapan vitamin. Kehadiran vitamin dan mineral juga penting karena berperan dalam proses metabolisme, sistem imun, hingga perlindungan sel tubuh.
Sebaliknya, kandungan yang perlu diwaspadai dalam camilan adalah gula tambahan, garam, dan lemak tidak sehat. Gula sering kali tersembunyi dalam camilan kemasan. Jika dikonsumsi berlebihan, gula dapat memicu lonjakan gula darah, meningkatkan kerja insulin, dan menambah risiko gangguan metabolik. Pada sebagian orang, camilan tinggi gula juga menyebabkan rasa lelah dan mengantuk setelah makan.
Camilan gurih biasanya mengandung natrium yang cukup tinggi. Meski porsinya kecil, konsumsi berulang dapat membuat asupan garam harian melampaui batas aman dan berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah serta risiko penyakit jantung. Selain itu, lemak jenuh dan lemak trans yang banyak ditemukan dalam makanan ultra-olahan juga dapat memengaruhi kadar kolesterol jika dikonsumsi secara rutin.
Camilan ultra processed food (UPF) umumnya dirancang agar terasa sangat lezat dan memicu keinginan untuk terus makan. Meski satu porsinya terlihat rendah kalori, seseorang kerap mengonsumsi lebih dari satu porsi tanpa sadar. Akibatnya, total asupan gula, garam, dan lemak dalam sehari tetap tinggi. Di sisi lain, jenis camilan ini biasanya rendah serat dan protein sehingga tidak memberikan rasa kenyang yang bertahan lama.
Karena itu, kebiasaan membaca label gizi menjadi penting. Saat memilih camilan kemasan, sebaiknya tidak hanya melihat jumlah kalorinya, tetapi juga memperhatikan kandungan gula total, natrium, dan jenis lemak. Camilan yang lebih baik untuk kesehatan umumnya memiliki daftar bahan yang singkat, mudah dikenali, dan minim tambahan zat kimia.
Pada akhirnya, camilan sehat bukan hanya soal rendah kalori. Tingkat pemrosesan makanan, kualitas bahan, serta kandungan gula, garam, dan lemak justru menjadi penentu utama apakah camilan tersebut mendukung kesehatan atau malah berisiko bagi tubuh.
sumber: detikHealth
berita selengkapnya bisa anda lihat di aruna9news.com











