Gen Z China Tinggalkan Kota Besar, Pilih Tinggal di “Kota Mati” demi Hidup Lebih Tenang

Last Updated: 6 Maret 2026By Tags: ,

Salah satu apartemen kosong di China. Foto: REUTERS/Xiaoyu Yin

Aruna9news.com – Fenomena menarik tengah terjadi di China dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah anak muda Generasi Z memilih meninggalkan gemerlap kota besar dan pindah ke “kota mati” yang relatif sepi penduduk. Alasan utamanya sederhana: biaya hidup yang jauh lebih murah, terutama harga sewa hunian yang terpaut besar dibanding kota metropolitan seperti Beijing, Shanghai, atau Guangzhou.

Salah satu contohnya adalah Sasa Chen. Perempuan muda ini sebelumnya bekerja di sektor keuangan di Shanghai dengan penghasilan mencapai US$100 ribu per tahun. Namun tekanan kerja dan tingginya biaya hidup membuatnya kelelahan secara mental. Ia akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaannya dan pindah ke kawasan hunian sepi di Provinsi Jiangsu, yang dikenal sebagai tiruan “Venesia-nya China”.

Di sana, Chen hanya membayar sewa sekitar 1.200 RMB atau sekitar Rp2,9 juta per bulan. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rata-rata sewa apartemen di Shanghai yang bisa mencapai 3.000 RMB, bahkan hingga 8.000 RMB untuk unit yang lebih nyaman. Meski harus meninggalkan hiruk-pikuk kota besar, Chen mengaku lebih bahagia karena dapat menikmati udara bersih, pemandangan laut, serta waktu luang yang lebih banyak.

Kawasan yang ditempatinya dikenal dengan konsep “Life in Venice”, sebuah kota satelit yang sempat dibangun untuk hunian dan pariwisata, namun terdampak krisis properti pascapandemi COVID-19. Banyak unit kosong membuat harga sewa dan jual properti anjlok drastis. Chen sendiri berhasil menabung hingga US$290 ribu sebelum akhirnya memutuskan pindah secara permanen.

Fenomena ini dinilai para ahli sebagai perubahan pola pikir generasi muda. Jika generasi sebelumnya berlomba-lomba pindah ke kota besar demi karier dan status sosial, Gen Z justru lebih memprioritaskan kesehatan mental dan kualitas hidup. Direktur di Max Planck Institute for Social Anthropology, Xiang Biao, menyebut tren ini berpotensi meluas karena semakin banyak anak muda yang berani meninggalkan jalur karier konvensional.

Selain kawasan tiruan Venesia tersebut, kota seperti Hegang di Provinsi Heilongjiang juga menjadi incaran. Kota bekas tambang batu bara itu kini memiliki lebih banyak hunian kosong dibanding jumlah penduduknya. Agen properti bahkan menawarkan rumah dengan harga lebih murah dari sebuah mobil, dan promosi gencar dilakukan lewat media sosial hingga menarik minat pembeli asing.

Profesor keuangan dari University of Hong Kong, Chen Zhiwu, menilai mahalnya biaya hidup serta peluang kerja yang makin kompetitif di kota besar mendorong anak muda mempertimbangkan opsi tinggal di kota kecil. Menurutnya, generasi muda saat ini sedang menghadapi realitas ekonomi yang tidak pasti dan memilih jalan hidup yang lebih rasional serta berkelanjutan bagi diri mereka sendiri.

Editor: Ariel Yoga Praditya
Source: Detik.com

Leave A Comment