Istilah “Manhater” dan “Manchild” Ramai Dibahas, Lagu Sabrina Carpenter Picu Diskusi Relasi Modern

Image : Music Video ‘Manchild’
Aruna9news.com – Fenomena perempan yang dilabeli “manhater” kembali menjadi sorotan, seiring ramainya pembahasan istilah “manchild” yang populer lewat lagu Sabrina Carpenter. Istilah tersebut menggambarkan laki-laki yang dianggap belum dewasa secara emosional, sehingga memicu respons kritis dari sebagian perempuan dalam memandang hubungan.
Perbincangan ini mencuat di media sosial, terutama di kalangan generasi muda yang membahas dinamika hubungan modern. Banyak perempuan mengaitkan sikap “manhater” bukan semata kebencian terhadap laki-laki, melainkan bentuk kekecewaan terhadap pengalaman relasi yang dianggap tidak sehat atau tidak setara.
Sejumlah faktor menjadi penyebab munculnya fenomena ini. Pengalaman pribadi seperti diselingkuhi, kurangnya komunikasi, hingga pasangan yang dinilai tidak bertanggung jawab sering kali menjadi pemicu utama. Istilah “manchild” sendiri digunakan untuk menggambarkan perilaku laki-laki yang dinilai belum siap secara emosional dalam menjalani hubungan serius.
Dalam perspektif Psikologi Sosial, respons tersebut dapat dipahami sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Individu yang pernah mengalami kekecewaan cenderung membangun batasan emosional, yang dalam beberapa kasus berkembang menjadi generalisasi terhadap kelompok tertentu.
Media sosial juga berperan besar dalam memperluas fenomena ini. Konten yang membahas pengalaman serupa sering menjadi viral dan menciptakan ruang validasi bagi banyak perempuan. Hal ini memperkuat narasi kolektif yang kemudian membentuk cara pandang terhadap hubungan dan pasangan.
Meski demikian, para ahli menilai penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini sebagai kebencian semata. Label seperti “manhater” maupun “manchild” mencerminkan dinamika relasi yang lebih kompleks, di mana komunikasi, kedewasaan emosional, dan saling pengertian menjadi kunci utama dalam membangun hubungan yang sehat.










