Kasus Kekerasan di Sekolah Awal 2026 Didominasi Oleh Kekerasan Seksual

Last Updated: 9 April 2026By Tags: ,

Aruna9News.com, Jakarta – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengungkap temuan terkait kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang Januari hingga Maret 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari pemberitaan media dan jaringan di berbagai daerah, tercatat sebanyak 22 kasus kekerasan terjadi di satuan pendidikan.

Dari jumlah tersebut, mayoritas atau sekitar 91 persen merupakan kasus kekerasan seksual, sementara sisanya 9 persen berupa kekerasan fisik.

Ketua Dewan Pakar FSGI, Retno Listyarti, menyebut bahwa dalam tiga bulan pertama tahun ini, rata-rata terjadi tujuh kasus kekerasan setiap bulan. Ia juga menyoroti adanya perubahan tren dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kasus kekerasan fisik serta perundungan justru menurun, sementara kekerasan seksual meningkat tajam,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

FSGI mencatat jumlah korban kekerasan seksual mencapai 83 orang. Rinciannya terdiri dari 41 anak laki-laki, 40 anak perempuan, serta dua tenaga kependidikan perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa korban tidak hanya didominasi oleh anak perempuan, tetapi juga banyak dialami oleh anak laki-laki.

Sementara itu, dari sisi pelaku, FSGI menemukan bahwa mayoritas pelaku kekerasan seksual berasal dari kalangan guru, yakni sebesar 54,5 persen. Pelaku lainnya meliputi pimpinan lembaga pendidikan, sesama siswa, tenaga kependidikan, hingga pelatih kegiatan ekstrakurikuler.

Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, menilai kondisi ini berpotensi menyulitkan korban dalam mendapatkan keadilan. Hal tersebut berkaitan dengan aturan dalam Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang menyerahkan penyelesaian kasus kekerasan di satuan pendidikan melalui mekanisme kebijakan kepala sekolah.

Menurutnya, jika pelaku berasal dari internal sekolah, maka penanganan kasus berisiko tidak objektif dan dapat merugikan korban.

FSGI juga membandingkan, sepanjang tahun 2025 terdapat 60 kasus kekerasan di satuan pendidikan. Dengan tren yang terjadi di awal 2026, jumlah kasus diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun.

Temuan ini menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan, mengingat sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi peserta didik.

Sumber: detkcom

Penulis: Annisa Ainaya Salsabila

Leave A Comment