Kembali Demi Perdamaian, Aquino Justru Tewas di Tanah Airnya

Ilustrasi Penembakan
Aruna9news.com – Pemimpin oposisi Filipina, Benigno Aquino Jr., tewas ditembak sesaat setelah tiba di negaranya pada 21 Agustus 1983. Insiden itu terjadi di Bandara Internasional Manila, ketika ia kembali dengan tujuan mendorong proses politik yang damai di tengah situasi negara yang tidak stabil, Kepulangan Aquino terjadi di tengah gejolak politik selama masa pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos. Sebelumnya, ia dikenal sebagai politisi muda yang berpengaruh dan dipandang sebagai calon kuat presiden, terutama setelah menjadi anggota parlemen termuda di Filipina pada usia 35 tahun.
Namun, setelah penerapan darurat militer pada 1972, Aquino dituduh sebagai komunis oleh Marcos dan dipenjara selama tujuh tahun. Pada 1977, ia dijatuhi hukuman mati atas tuduhan subversi, tetapi kemudian diizinkan pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi jantung. Setelah pulih, ia memilih menetap di sana selama tiga tahun sebagai pengasingan.
Meski menyadari risiko besar, Aquino memutuskan kembali ke Filipina pada 1983 untuk memperjuangkan stabilitas politik melalui cara damai. Bahkan, sebelum mendarat, ia sempat mengungkapkan kepada wartawan bahwa dirinya siap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk ancaman pembunuhan.
Setibanya di Manila, Aquino langsung diamankan oleh aparat militer dan dikawal keluar dari pesawat. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan, dan ia ditemukan tewas di landasan pacu. Di lokasi yang sama, ditemukan pula jasad pria yang diduga sebagai pelaku penembakan.
Presiden Marcos menyebut pelaku sebagai pembunuh bayaran dan menyatakan bahwa insiden tersebut dilakukan oleh satu orang. Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya dipercaya publik, sehingga peristiwa ini hingga kini masih menjadi kontroversi dalam sejarah Filipina.
Source: Detik.com
Editor: Ariel Yoga Praditya










