Koleksi Legendaris Sejak 1985: Kisah Kiai Pecinta Sarung BHS yang Mendunia

Cilegon– Sebuah video inspiratif dari kanal prepektif saya mengungkap sisi lain dari dedikasi seorang kolektor sarong tenun tangan. Dalam tayangan tersebut, seorang Kiai berbagi kisah perjalanannya mengoleksi sarung BHS yang telah dimulai sejak tahun 1985.
Bagi sang Kiai, sarung bukan sekadar penutup aurat atau perlengkapan ibadah, melainkan sebuah karya seni bernilai tinggi. Salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalah sarung keluaran tahun 1985 yang kondisinya masih sangat terawat. Keunikan sarung lawas ini terletak pada labelnya yang masih menggunakan ejaan lama, menjadi bukti otentik sejarah panjang brand tersebut.
“Kualitasnya tidak lekang oleh waktu,” ungkapnya dalam percakapan tersebut. Ia menekankan bahwa daya tahan kain dan keindahan motif BHS merupakan alasan utama ia tetap setia selama hampir empat dekade.
Kisah ini menegaskan posisi Sarung BHS sebagai warisan budaya (cultural heritage) yang tidak hanya memiliki nilai fungsi, tetapi juga nilai investasi dan emosional bagi pemiliknya.
Sarung BHS di mata santri
Sarung BHS memang memiliki tempat istimewa di kalangan santri. Kualitasnya yang premium dan sejarahnya yang panjang menjadikannya simbol prestise dan pencapaian.
Bagi banyak santri, memiliki sarung BHS adalah sebuah impian dan penanda kesuksesan. Ini bukan hanya tentang memiliki sehelai kain, tetapi juga tentang:
- Pencapaian:Meraih sarung BHS sering dianggap sebagai simbol keberhasilan finansial atau kemandirian setelah lulus atau mencapai tahapan hidup tertentu.
- Penghormatan:Kualitas dan motif sarung BHS yang elegan seringkali dikenakan pada momen-momen penting atau saat beribadah, menunjukkan rasa hormat dan berwibawa.
- Nilai Spiritual:Banyak santri yang rela menabung demi kenyamanan dan kualitas terbaik saat beribadah, menjadikan sarung BHS sebagai bentuk investasi spiritual.
Ketahanan sarung BHS yang luar biasa juga menjadi nilai tambah, membuatnya dianggap sebagai barang yang sepadan dengan harganya. Wajar jika sarung ini menjadi salah satu cita-cita yang ingin dicapai oleh para santri.











