Langit Akhir Tahun Dihiasi Cold Moon, Supermoon Terakhir Muncul 4 Desember 2025

Last Updated: 15 Desember 2025By Tags: , , ,

Bulan purnama yang akan terjadi pada awal Desember 2025 memiliki sebutan khas, yakni Cold Moon. Karena termasuk dalam kategori supermoon, cahaya bulan ini akan tampak lebih terang dan ukurannya terlihat lebih besar dibandingkan purnama pada umumnya.

Mengacu pada penjelasan dari Natural History Museum, supermoon merupakan fenomena ketika bulan purnama berada di posisi terdekatnya dengan Bumi. Hal ini terjadi karena lintasan orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna, melainkan agak lonjong, sehingga terdapat titik terdekat (perigee) dan titik terjauh (apogee).

Saat Bulan berada di titik perigee, ukurannya dapat tampak sekitar 14 persen lebih besar dibandingkan saat berada di apogee, yang kerap disebut sebagai micromoon. Walaupun fase purnama muncul secara rutin setiap 29,5 hari, tidak semua purnama tergolong supermoon. Dalam satu tahun, fenomena ini biasanya hanya terjadi tiga hingga empat kali. Pada 2025, supermoon terakhir jatuh pada awal Desember.

Supermoon penutup tahun ini dikenal dengan nama Cold Moon. Nama tersebut berasal dari tradisi suku Mohawk yang menyesuaikannya dengan kondisi cuaca dingin. Sementara itu, suku Mohican menyebut purnama Desember sebagai Long Night Moon, merujuk pada malam yang semakin panjang.

Puncak supermoon Desember 2025 terjadi pada Kamis, 4 Desember 2025 pukul 23.14 waktu UTC. Jika dikonversikan ke Waktu Indonesia Barat, fenomena ini dapat disaksikan pada Jumat, 5 Desember 2025 pukul 06.14 WIB. Meski Matahari mulai terbit pada jam tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati pemandangan bulan purnama beberapa malam sebelum dan sesudah tanggal tersebut.

Supermoon Cold Moon dapat diamati tanpa bantuan alat khusus. Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, disarankan memilih lokasi terbuka dengan pandangan cakrawala yang luas, seperti dataran tinggi, lapangan terbuka, atau wilayah pantai yang menghadap ke timur. Saat baru terbit, bulan kerap terlihat lebih besar akibat ilusi optik yang hingga kini masih menjadi perbincangan para ilmuwan.

Terkait dampaknya, supermoon kerap dikaitkan dengan isu bencana alam. Secara ilmiah, gaya tarik gravitasi Bulan memang lebih kuat saat supermoon sehingga memicu pasang laut yang lebih tinggi. Namun, kenaikan tersebut umumnya hanya beberapa sentimeter dan tidak cukup kuat untuk menyebabkan bencana besar seperti tsunami atau gempa bumi.

Meski demikian, supermoon tetap berpotensi memicu banjir rob di wilayah pesisir. Karena itu, masyarakat di daerah pantai diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat pasang laut maksimum. Selain itu, posisi Bulan yang lebih dekat dengan Bumi juga membuat cahaya purnama tampak lebih terang dari biasanya.

sumber: detikJateng

berita selengkapnya bisa anda lihat di aruna9news.com

Leave A Comment