Rekomendasi 3 Destinasi Slow Traveling Terbaik di Asia Tenggara
Di tengah kesibukan dan tekanan rutinitas harian, semakin banyak orang yang mencari cara berlibur dengan ritme lebih santai dan bermakna. Konsep ini dikenal sebagai slow traveling, yakni gaya perjalanan yang fokus pada pengalaman mendalam, keterlibatan dengan budaya lokal, serta menikmati momen tanpa terburu-buru.
Asia Tenggara atau kawasan ASEAN menjadi salah satu wilayah yang menawarkan banyak pilihan tempat menarik untuk menerapkan gaya traveling ini. Dari desa kecil yang tenang hingga kota budaya yang hangat, berikut tiga destinasi wisata di ASEAN yang cocok untuk kamu yang ingin menikmati liburan dengan lebih pelan dan penuh makna.
1. Kampot, Kamboja
Bagi kamu yang ingin menjauh dari hiruk pikuk Phnom Penh atau destinasi populer seperti Siem Reap, Kampot bisa menjadi pilihan ideal untuk slow traveling di Kamboja. Kota kecil yang terletak di tepi sungai ini menawarkan ketenangan, pemandangan pegunungan, dan nuansa kehidupan lokal yang autentik.
Berbagai aktivitas seperti kayaking di Sungai Praek Tuek Chhu, mengunjungi kebun lada khas Kampot, hingga duduk santai di kafe pinggir sungai memberikan pengalaman yang intim dan jauh dari hiruk-pikuk wisata massal. Kampot adalah tempat yang pas untuk memperlambat langkah dan menikmati suasana secara menyeluruh.
2. Ubud, Bali – Indonesia
Meski Bali terkenal sebagai destinasi wisata internasional yang ramai, Ubud tetap menjadi surga tersembunyi bagi mereka yang mencari ketenangan. Dikelilingi sawah hijau, hutan tropis, dan atmosfer spiritual yang kental, Ubud menawarkan pengalaman slow traveling yang penuh refleksi dan kedekatan dengan alam.
Kamu bisa mengikuti kelas yoga atau meditasi, menyusuri pasar seni, menginap di vila bernuansa alam, hingga menikmati karya seniman lokal. Suasana Ubud mendorong para pelancong untuk lebih terhubung dengan diri sendiri dan merasakan ritme kehidupan yang lebih tenang dan seimbang.
3. Chiang Mai, Thailand
Terletak di wilayah utara Thailand, Chiang Mai dikenal sebagai kota budaya yang ramah dan penuh ketenangan. Suasananya jauh lebih santai dibanding Bangkok, dengan banyak kuil kuno, pasar tradisional, serta kafe dan ruang seni yang tersebar di penjuru kota.
Kegiatan seperti belajar memasak masakan lokal, menginap di homestay, atau menjelajahi desa-desa di pegunungan sekitar menjadi pilihan favorit para traveler yang ingin menetap lebih lama. Energi spiritual dan gaya hidup sehat yang alami menjadikan Chiang Mai sebagai magnet bagi pecinta slow travel dari seluruh dunia.
Ketiga destinasi di atas bukan hanya sekadar tempat berlibur, melainkan ruang untuk mengenal budaya lokal lebih dalam, menciptakan koneksi dengan lingkungan sekitar, serta menjalani perjalanan yang lebih bermakna. Slow traveling bukan soal kecepatan, tapi tentang kualitas dan kesadaran dalam menikmati setiap momen perjalanan.
Sumber: IDN News
Berita selengkapnya dapat anda akses melalui aruna9news.com