Serangan Gabungan AS–Israel Tewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ketegangan Timur Tengah Memuncak

Warga Iran berduka atas kematian pemimpin tertinggi mereka Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan Israel dan AS pada Sabtu, di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. (Majid Asgaripour/WANA via Reuters)
Aruna9news.com – Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas bersama sejumlah orang terdekatnya dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2). Presiden AS Donald Trump kemudian menyerukan agar rakyat Iran memanfaatkan momen ini untuk mengambil alih pemerintahan, Kabar kematian Khamenei pertama kali diumumkan Trump, yang menyebutnya sebagai salah satu tokoh paling berbahaya dalam sejarah. Ia mengklaim operasi tersebut berhasil berkat teknologi intelijen AS yang didukung Israel untuk melacak lokasi Khamenei.
Beberapa jam setelah pernyataan itu, kantor berita resmi Iran IRNA mengonfirmasi bahwa Khamenei tewas di kantornya akibat serangan siang hari. Media pemerintah Iran juga melaporkan sejumlah anggota keluarganya — termasuk putri, cucu, dan menantu — ikut menjadi korban. Selain itu, penasihat utama Khamenei, Ali Shamkhani, serta komandan Garda Revolusi, Mohammed Pakpour, juga dilaporkan tewas, Laporan The Telegraph menyebut jenazah Khamenei ditemukan di antara reruntuhan bangunan dengan luka akibat serpihan ledakan. Ia wafat pada usia 86 tahun setelah memimpin Iran selama beberapa dekade.
Serangan gabungan AS dan Israel disebut mencakup sekitar 900 target militer, fasilitas nuklir, dan gedung pemerintahan di seluruh Iran selama 12 jam menggunakan jet tempur F-35, F-22, serta drone serang, Pemerintah Iran kemudian meminta warga meninggalkan Teheran, sementara Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan lebih dari 700 lainnya luka-luka. Salah satu serangan bahkan menghantam sekolah di wilayah selatan dan menewaskan lebih dari 100 orang.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke beberapa wilayah di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi. Garda Revolusi Iran menyatakan akan melakukan serangan balasan paling keras dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, Menurut laporan Reuters, Trump memantau operasi tersebut dari resor pribadinya Mar-a-Lago di Florida. Ia juga menyatakan sejumlah unsur militer dan aparat keamanan Iran disebut siap menyerah kepada AS.
Trump menilai situasi ini sebagai peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali kendali atas negara mereka, Serangan tersebut merupakan operasi militer kedua AS terhadap Iran sejak Trump kembali menjabat, setelah sebelumnya menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu. Aksi terbaru ini terjadi di tengah negosiasi Iran dan AS terkait penghentian program nuklir Iran, yang oleh pejabat AS dianggap sebagai ancaman serius terhadap pasukan Amerika
Source: Cna.id










