Ultimatum 48 Jam Donald Trump ke Iran: Buka Selat Hormuz atau Hadapi ‘Neraka’

Image: Donald Trump
Aruna9news.com – Donald Trump kembali meningkatkan tensi konflik dengan Iran setelah mengeluarkan ultimatum keras agar negara tersebut membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social, di mana ia memperingatkan bahwa “neraka” akan menimpa Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Ultimatum ini merupakan bagian dari rangkaian tekanan yang sebelumnya sudah dilontarkan Trump. Pada akhir Maret, ia sempat mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran, dimulai dari pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Ancaman itu sempat ditunda beberapa kali karena adanya sinyal pembicaraan antara kedua pihak yang disebutnya “produktif”. Namun, setelah tenggat kembali diperpanjang, Trump justru mempertegas ancamannya dan menyatakan waktu hampir habis.
Di sisi lain, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan tunduk pada tekanan tersebut. Pihak militer Iran, melalui pernyataan resmi dari komando pusatnya, menilai ancaman Trump sebagai tindakan yang tidak rasional, penuh kepanikan, dan tidak mencerminkan keseimbangan dalam pengambilan keputusan. Mereka bahkan mengejek balik dengan menyebut bahwa retorika Trump hanya menunjukkan kelemahan, bukan kekuatan.
Seorang pejabat tinggi militer Iran juga menanggapi penggunaan istilah religius dalam pernyataan Trump. Ia memperingatkan bahwa jika ancaman itu benar-benar diwujudkan, justru Amerika Serikat yang akan menghadapi konsekuensi besar. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya menolak ultimatum tersebut, tetapi juga siap merespons jika konflik meningkat menjadi konfrontasi militer terbuka.
Ketegangan antara kedua negara semakin meningkat setelah sebelumnya Trump mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Salah satu yang disorot adalah jembatan strategis di wilayah Karaj, yang disebut sebagai salah satu jembatan penting di kawasan tersebut. Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengunggah video yang memperlihatkan asap tebal membumbung, sebagai bukti serangan yang ia klaim berhasil. Ia menegaskan bahwa serangan lanjutan akan terus dilakukan jika Iran tidak segera duduk di meja perundingan.
Tidak hanya itu, Trump juga kembali mengangkat isu perubahan rezim di Iran. Ia menyatakan bahwa kepemimpinan baru diperlukan agar negara tersebut dapat mengambil keputusan yang menurutnya “benar” dan mengakhiri konflik. Pernyataan ini mempertegas bahwa tekanan dari AS tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyasar aspek politik internal Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran luas di tingkat internasional. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia, sehingga setiap potensi konflik di kawasan tersebut dapat berdampak besar pada stabilitas ekonomi global. Para analis juga mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil, seperti pembangkit listrik dan jembatan, berpotensi dikategorikan sebagai pelanggaran hukum internasional atau bahkan kejahatan perang.
Dengan retorika yang semakin memanas dari kedua belah pihak, risiko eskalasi konflik kini semakin tinggi. Jika tidak ada upaya diplomasi yang berhasil meredakan ketegangan, situasi ini berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan melibatkan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.
Source: Detik.com
Editor: Ariel Yoga Praditya










