Strategi Baru MicroStrategy Akhiri Era “Pantang Jual” Bitcoin

Aruna9news.com, JAKARTA – Perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, MicroStrategy, resmi mengubah arah kebijakan investasinya. Setelah lama berpegang pada prinsip “pantang jual” (never sell), perusahaan kini mengadopsi strategi yang lebih fleksibel dalam mengelola aset kripto mereka.

Perubahan ini terungkap dalam laporan keuangan terbaru perusahaan. Manajemen menyatakan tidak lagi sekadar menimbun Bitcoin secara pasif, melainkan akan lebih aktif mengelola neraca keuangan demi meningkatkan nilai Bitcoin per lembar saham bagi investor.

Langkah tersebut diambil di tengah tekanan finansial yang cukup berat. Perusahaan melaporkan kerugian bersih sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal I-2026, seiring dengan penurunan harga Bitcoin di awal tahun.

CEO Phong Le menegaskan bahwa perusahaan kini membuka peluang untuk menjual sebagian kepemilikan Bitcoin jika langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan nilai saham.

“Kemampuan kami untuk menjual Bitcoin, baik untuk mendapatkan dolar AS atau melunasi utang, akan kami pertimbangkan jika itu menguntungkan bagi nilai per saham,” ujarnya dalam pertemuan dengan investor.

Sebagai langkah antisipasi, perusahaan juga telah menyiapkan cadangan kas sebesar US$ 2,25 miliar sejak Desember 2025 guna memenuhi kewajiban dividen dan pembayaran utang yang jatuh tempo.

Sementara itu, pendiri sekaligus Chairman Michael Saylor mengibaratkan strategi baru ini seperti bisnis pengembang properti.

“Jika Anda membeli tanah murah lalu menjualnya saat mahal untuk membeli lebih banyak aset atau membayar utang, itu hal yang wajar,” jelasnya.

Menurutnya, perusahaan kini berperan sebagai “pengembang Bitcoin” yang membeli saat harga rendah dan mengoptimalkan aset saat harga tinggi.

Hingga akhir kuartal I-2026, MicroStrategy tercatat memiliki 818.334 BTC dengan nilai sekitar US$ 61,81 miliar, setara hampir 4% dari total pasokan Bitcoin global.

Transformasi ini menandai babak baru bagi perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia perangkat lunak intelijen bisnis. Sejak 2020, di bawah kepemimpinan Michael Saylor, perusahaan beralih menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utama.

Kini, perubahan dari strategi “HODL” menjadi manajemen aset aktif dinilai sebagai sinyal penting bagi pasar kripto global dalam menghadapi volatilitas yang semakin tinggi.

Sumber: investor.id

Penulis: Annisa Ainaya Salsabila

Leave A Comment