Wabah tersebut diketahui berkaitan dengan virus Andes, salah satu strain hantavirus langka yang dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan. Otoritas kesehatan internasional kini tengah melakukan pelacakan terhadap seluruh penumpang kapal untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Pakar epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove, menjelaskan bahwa pola penyebaran hantavirus sangat berbeda dibanding virus pernapasan seperti Covid-19 maupun influenza. Menurutnya, virus ini tidak memiliki kemampuan penularan tinggi sehingga risiko terjadinya pandemi global masih dinilai sangat rendah.
Kasus di kapal pesiar tersebut mulai mencuat setelah beberapa penumpang mengalami gejala berat seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, diare, hingga gangguan pernapasan serius selama perjalanan. Tiga korban dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya dievakuasi untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Hantavirus sendiri merupakan penyakit yang umumnya berasal dari hewan pengerat, terutama tikus. Penularan terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering. Dalam kasus virus Andes, penularan antarmanusia memang dapat terjadi, tetapi biasanya membutuhkan kontak erat dalam waktu lama.
Kekhawatiran publik meningkat karena kapal pesiar merupakan ruang tertutup dengan mobilitas penumpang yang tinggi dan melibatkan wisatawan dari berbagai negara. Situasi tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan penyebaran global seperti yang pernah terjadi pada awal pandemi Covid-19. Namun, WHO menegaskan hingga saat ini belum ada indikasi wabah di MV Hondius akan berkembang menjadi ancaman kesehatan global berskala besar.
Di Indonesia, keberadaan hantavirus sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah penelitian dan data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan virus ini telah lama terdeteksi, terutama di wilayah perkotaan dengan populasi tikus tinggi serta sanitasi lingkungan yang buruk. Meski demikian, para ahli menilai risiko penularan di ruang publik seperti sekolah, kantor, maupun transportasi umum masih sangat kecil.
WHO bersama otoritas kesehatan internasional saat ini terus memantau perkembangan kasus serta melakukan investigasi epidemiologi terhadap seluruh penumpang dan kru kapal. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan rantai penularan dapat dikendalikan sekaligus mencegah kepanikan publik terkait wabah hantavirus.