IHSG Anjlok 4,38 Persen, Bursa Nyaris Hentikan Perdagangan

Aruna9news.com, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (18/5/2026). Dalam waktu sekitar 1,5 jam sejak pembukaan pasar, IHSG merosot hingga 292 poin atau sekitar 4,38 persen dan mendekati level yang berpotensi memicu ‘trading halt’.

Pelemahan ini terjadi akibat tekanan di seluruh sektor saham, dengan sektor material dasar mencatat penurunan terdalam hingga sekitar 9 persen. Selain itu, sektor energi, industri, consumer primer, keuangan, infrastruktur, dan transportasi juga mengalami koreksi lebih dari 4 persen.

Penurunan IHSG turut dipengaruhi aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, DSSA, AMMN, BREN, MORA, EMAS, dan TKIM. Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI juga mengalami tekanan yang signifikan.

Sentimen negatif datang dari berbagai faktor, baik global maupun domestik. Pelemahan nilai tukar rupiah, kondisi pasar global yang tidak stabil, hingga keputusan MSCI dan FTSE yang masih membekukan pasar saham Indonesia menjadi pemicu utama tekanan di pasar. Selain itu, beberapa emiten juga dikeluarkan dari konstituen indeks global tersebut sehingga meningkatkan kekhawatiran akan arus keluar dana asing (*capital outflow*).

Berdasarkan data RTI Business pukul 10.30 WIB, IHSG berada di level 6.433,95 setelah turun sekitar 289 poin. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,8 triliun dengan volume perdagangan hampir 12,9 miliar saham.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena pasar dibayangi berbagai sentimen negatif. Menurutnya, konflik geopolitik yang berkepanjangan telah mendorong harga minyak mentah dunia menembus US$100 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa menyebut pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan tekanan teknikal domestik. Ia menilai eskalasi konflik di Timur Tengah, pelemahan rupiah, dan aksi jual investor asing pada saham-saham unggulan semakin memperburuk kondisi pasar.

Selain faktor tersebut, pengumuman dari MSCI dan FTSE juga dinilai memberi tekanan besar terhadap psikologis investor. Kekhawatiran meningkat karena potensi keluarnya dana asing dan *passive funds* dari pasar Indonesia pada akhir Mei mendatang.

Jika tekanan jual terus berlanjut, pasar berpotensi mengalami ‘trading halt’, yaitu penghentian sementara perdagangan saham oleh Bursa Efek Indonesia guna meredam volatilitas pasar yang terlalu tajam.

Sumber: investortrust.id

Penulis: Annisa Ainaya Salsabila

Leave A Comment