Nyeri Leher Belakang Bukan Tanda Kolesterol Tinggi, Dokter Ungkap Faktanya

Last Updated: 21 Mei 2026By Tags: ,

Image: Ilustrasi Kolesterol

Aruna9news.com – Kolesterol merupakan zat menyerupai lilin yang terdapat di dalam darah dan dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel-sel sehat. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, Selama ini banyak orang menganggap rasa nyeri atau “cenat-cenut” di bagian belakang leher sebagai tanda kolesterol tinggi. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Spesialis jantung dan pembuluh darah, BRM Ario Soeryo Kuncoro, menjelaskan bahwa nyeri di area leher belakang umumnya bukan disebabkan oleh kolesterol tinggi, melainkan lebih sering berkaitan dengan masalah otot atau kesalahan postur tubuh.

Pendapat serupa juga disampaikan spesialis gizi klinik, Diana F Suganda. Ia mengatakan kadar kolesterol tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala khas, sehingga tidak bisa disimpulkan hanya dari keluhan nyeri leher. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kolesterol seseorang.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam Muhammad Imanuddin menyebut kolesterol LDL atau kolesterol jahat yang tinggi umumnya tidak memiliki tanda khusus. Meski demikian, beberapa pasien bisa mengalami keluhan seperti pembengkakan pada kaki, tangan, atau tubuh, serta nyeri di beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan, pundak, dan leher.

Untuk mengetahui kadar kolesterol secara pasti, pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, LDL, dan HDL dianjurkan dilakukan di fasilitas kesehatan atau rumah sakit.

Di sisi lain, spesialis penyakit dalam Ray Ratu menjelaskan bahwa obesitas memang dapat menjadi salah satu faktor risiko kolesterol tinggi. Kondisi kegemukan terjadi akibat penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh dan termasuk bagian dari sindrom metabolik, yang juga berkaitan dengan hipertensi, diabetes, serta asam urat.

Meski begitu, tidak semua orang dengan berat badan berlebih pasti memiliki kolesterol tinggi. Namun, risiko mengalami gangguan metabolik memang cenderung lebih besar dibandingkan orang dengan berat badan ideal.

Selain obesitas, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi antara lain pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebihan, serta faktor usia. Semakin bertambah usia seseorang, kemampuan tubuh untuk membuang kolesterol jahat juga cenderung menurun.

Source: Detik.com

Editor: Ariel Yoga Praditya

Leave A Comment