Guru Besar Universitas Esa Unggul Dorong Konsep “Digital Filial Piety” untuk Menjawab Tantangan Masyarakat Menua di Era Perubahan Demografi
Esaunggul.ac.id, Komitmen Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University dalam menghadirkan kontribusi akademik terhadap isu-isu strategis nasional kembali ditunjukkan melalui partisipasi Guru Besar Fakultas Psikologi, Prof. Drs. Adi Fahrudin, S.Psi., M.Soc.Sc., Ph.D., sebagai expert discussant pada Expert Meeting Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga (KNPK) Indonesia 2026. Dalam forum yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, dan organisasi masyarakat tersebut, Prof. Adi memperkenalkan gagasan Digital Filial Piety sebagai pendekatan baru dalam memperkuat sistem dukungan keluarga bagi lansia di tengah percepatan perubahan demografi.
Forum bertema “Ketahanan Keluarga di Tengah Perubahan Demografi: Tantangan, Dampak, dan Strategi Kebijakan Menuju Indonesia Berkelanjutan” yang berlangsung di Philanthropy Building Dompet Dhuafa, Jakarta, menjadi ruang strategis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti dalam memperkuat ketahanan keluarga Indonesia menjelang era masyarakat menua.
Kegiatan dibuka oleh Cicih Kurniasih, M.Pd., Deputi Direktur II Program Pendidikan Dompet Dhuafa, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun kesadaran publik mengenai perlindungan keluarga, kesejahteraan anak, serta keberlanjutan sosial.
Forum ini juga menghadirkan sejumlah pakar nasional dan internasional, di antaranya Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si. dari IPB University sekaligus Ketua Umum KNPK Indonesia, Dr. Sung Hee Hong dari Seoul National University, Korea Selatan, Dr. Nik Norliati Fitri, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia, serta Dr. Indra Murty Surbakti, M.A. dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.
Sebagai pembahas, Prof. Adi memberikan tanggapan atas pemaparan Dr. Nik Norliati Fitri mengenai meningkatnya fenomena kesepian (loneliness) pada kelompok lanjut usia akibat melemahnya sistem dukungan keluarga, urbanisasi, serta perubahan struktur masyarakat.
Menurut Prof. Adi, penelitian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lansia tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu psikologis, melainkan telah berkembang menjadi isu kesejahteraan sosial yang membutuhkan respons kebijakan yang lebih komprehensif.
“Penuaan penduduk bukan hanya isu demografi, tetapi juga isu kesejahteraan sosial. Masa depan masyarakat menua akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita membangun kembali jejaring dukungan keluarga, komunitas, dan negara yang saling melengkapi,” ujar Prof. Adi Fahrudin.
Namun demikian, Prof. Adi menilai bahwa dinamika masyarakat modern membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dibanding sekadar mempertahankan pola dukungan keluarga tradisional. Dalam forum tersebut, ia memperkenalkan konsep Digital Filial Piety, yaitu revitalisasi nilai penghormatan kepada orang tua melalui pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti hubungan keluarga, melainkan sebagai sarana memperkuat komunikasi, perhatian, dan kepedulian antargenerasi ketika anak dan orang tua tinggal berjauhan.
“Nilai-nilai penghormatan kepada orang tua (filial piety) tidak seharusnya dipandang sebagai budaya yang memudar, tetapi perlu direvitalisasi sesuai perkembangan zaman. Kita perlu membangun konsep digital filial piety, di mana teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat kepedulian dan komunikasi antargenerasi ketika anak dan orang tua tinggal berjauhan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa transformasi digital harus disertai strategi implementasi yang inklusif agar tidak justru memperlebar kesenjangan.
“Literasi digital bagi lansia saja tidak cukup. Diperlukan peta jalan yang konkret agar teknologi benar-benar inklusif dan dapat diakses oleh kelompok lansia yang paling rentan. Teknologi harus memperkuat hubungan sosial, bukan menggantikannya.”
Selain itu, Prof. Adi juga mendorong agar pembangunan sistem perlindungan lansia melibatkan lebih banyak aktor di luar pemerintah dan keluarga.
Menurutnya, sektor swasta, social enterprise, dunia usaha, hingga pengembang kawasan hunian memiliki peluang besar menghadirkan berbagai inovasi layanan sosial yang ramah lansia, terutama ketika keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan struktur sosial.
Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan publik perlu mempertimbangkan perbedaan kebutuhan antara lansia laki-laki dan perempuan agar intervensi yang diberikan lebih efektif dan berkeadilan.
Sebagai penutup pembahasannya, Prof. Adi mengajukan sejumlah agenda riset strategis, mulai dari model intervensi psikososial yang paling efektif bagi lansia, indikator keberhasilan National Loneliness Strategy, desain sistem perlindungan sosial antara wilayah perkotaan dan perdesaan, hingga penguatan regulasi perlindungan warga lanjut usia di tengah melemahnya dukungan keluarga tradisional.
Rektor Universitas Esa Unggul, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST., MBA., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kontribusi pemikiran para akademisi dalam forum-forum strategis merupakan bagian dari komitmen Universitas Esa Unggul dalam menghadirkan solusi berbasis riset terhadap berbagai tantangan pembangunan nasional dan global.
“Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University terus mendorong dosen dan peneliti untuk berkontribusi aktif dalam menghasilkan gagasan, riset, dan rekomendasi kebijakan yang menjawab persoalan nyata masyarakat. Pemikiran Prof. Adi mengenai Digital Filial Piety menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan inovasi konseptual yang relevan dalam merespons perubahan demografi, transformasi digital, dan penguatan sistem perlindungan sosial menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Rektor.
Partisipasi Prof. Adi Fahrudin dalam forum nasional tersebut semakin menegaskan peran Universitas Esa Unggul sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga aktif berkontribusi dalam penyusunan kebijakan publik berbasis bukti (evidence-based policy). Sejalan dengan semangat internasionalisasi yang diusung Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University, berbagai kontribusi akademik tersebut diharapkan mampu memperkuat pembangunan sosial yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan, kesejahteraan, dan pengurangan ketimpangan.
Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University Merupakan World Class University
Universitas Esa Unggul Powered by Arizona State University merupakan perguruan tinggi swasta terkemuka yang berkomitmen menjadi world-class entrepreneurial university.
Didirikan pada tahun 1993, Universitas Esa Unggul saat ini memiliki:
- 11 Fakultas
- 44 Program Studi, terdiri dari:
- 25 Program Sarjana/Sarjana Terapan
- 2 Program Diploma
- 6 Program Profesi
- 9 Program Magister
- 1 Program Doktor
- 1 Program Sarjana PJJ Teknik Informatika (full online)
Universitas Esa Unggul memiliki lebih dari 19.000 mahasiswa yang berasal dari 37 provinsi di Indonesia dan 8 negara, dengan dukungan ekosistem pendidikan modern berbasis inovasi dan kolaborasi global. Dalam penguatan kualitas pendidikan dan internasionalisasi, Universitas Esa Unggul tergabung dalam CINTANA Alliance, jejaring global perguruan tinggi yang dimotori oleh Arizona State University (ASU), yang memungkinkan akses pada praktik pendidikan tinggi kelas dunia, inovasi pembelajaran digital, pengembangan kurikulum global, penelitian, serta kolaborasi internasional.
Sebagai bagian dari pengembangan institusi, Universitas Esa Unggul juga menghadirkan Global Innovation Hub (GI Hub) di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, yang dikembangkan dengan konsep Urban Academic Hub untuk mendukung pembelajaran berbasis industri, riset, inovasi, technopark, entrepreneurship, serta kolaborasi dunia usaha dan industri.
Universitas Esa Unggul telah memperoleh Akreditasi Perguruan Tinggi “UNGGUL” dari BAN-PT, dengan 18 program studi berakreditasi UNGGUL dan sejumlah program studi yang telah meraih akreditasi internasional. Dalam bidang reputasi akademik dan institusi, Universitas Esa Unggul mencatat berbagai capaian nasional dan internasional, di antaranya:
- Peringkat 69 SINTA Nasional
- Peringkat 6 Jakarta & 62 Nasional versi EduRank 2026
- GreenMetric: Peringkat 2 Jakarta, 29 Nasional, dan 203 Internasional
- Berbagai penghargaan nasional melalui Anugerah Diktisaintek Kemendiktisaintek
Didukung budaya riset yang kuat, Universitas Esa Unggul aktif menghasilkan publikasi ilmiah, buku, hak kekayaan intelektual, inovasi, serta penelitian dan pengabdian masyarakat yang berdampak bagi pembangunan nasional dan global.
Berita selengkapnya dapat Anda akses melalui esaunggul.ac.id – aruna9news.com













