AS Akui Belum Miliki Sistem Cegat Rudal Hipersonik Rusia dan China

Sumber foto : CNBC Indonesia
Aruna9news.com – Pemerintah Amerika Serikat secara terbuka mengakui belum memiliki sistem pertahanan yang mampu mencegat rudal hipersonik milik Rusia dan China. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang di Kongres dan menjadi sorotan dalam isu keamanan global.
Pengakuan tersebut disampaikan oleh Marc Berkowitz, Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Kebijakan Pertahanan Rudal dan Pencegahan. Ia menyebut bahwa saat ini AS belum memiliki sistem yang mampu menghadapi ancaman rudal hipersonik maupun rudal jelajah canggih.
“Kita tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan bagi pemerintah Amerika Serikat untuk mempercepat pengembangan sistem pertahanan baru bernama Golden Dome. Proyek ini dirancang untuk mampu mendeteksi dan mencegat rudal hipersonik yang dikenal memiliki kecepatan tinggi dan sulit dilacak.
Rencana pembangunan Golden Dome diperkirakan membutuhkan anggaran hingga US$185 miliar atau setara lebih dari Rp3.200 triliun. Sistem ini ditargetkan dapat mulai beroperasi pada akhir dekade ini.
Presiden Donald Trump disebut mendorong penguatan sistem pertahanan ini sebagai bagian dari strategi meningkatkan kekuatan militer AS, termasuk pengembangan teknologi pertahanan berbasis luar angkasa.
Di sisi lain, langkah tersebut menuai perhatian dari China yang sebelumnya telah memperingatkan bahwa pengembangan sistem pertahanan semacam itu berpotensi memicu perlombaan senjata dan menjadikan ruang angkasa sebagai medan konflik baru.
Para analis menilai, perkembangan teknologi rudal hipersonik oleh Rusia dan China memang menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan global saat ini. Kecepatan dan manuver rudal jenis ini membuatnya sulit dideteksi dan dicegat dengan teknologi konvensional.
Pengakuan dari Amerika Serikat ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam kemampuan pertahanan udara terhadap ancaman modern. Hal ini sekaligus menandai babak baru dalam persaingan teknologi militer antarnegara besar di dunia.
Penulis : Aliya Lathifa Restu










