“Diam Bukan Berarti Setuju”: Ramainya Isu Consent Picu Edukasi Soal Batasan dalam Relasi

Last Updated: 15 April 2026By Tags: , , ,

Image : Ilustrasi

Aruna9news.com – Isu “diam berarti consent” tengah ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu perhatian publik terhadap pentingnya pemahaman tentang persetujuan atau consent dalam sebuah hubungan. Banyak pihak menegaskan bahwa diam bukanlah bentuk persetujuan, melainkan bisa menjadi tanda ketidaknyamanan, ketakutan, atau tekanan.

Fenomena ini mencuat setelah berbagai konten viral yang membahas pengalaman individu dalam situasi relasi yang tidak sehat. Narasi “diam berarti setuju” dinilai berbahaya karena dapat membenarkan tindakan yang sebenarnya melanggar batasan pribadi seseorang.

Para ahli menekankan bahwa consent harus diberikan secara jelas, sadar, dan tanpa paksaan. Persetujuan tidak bisa diasumsikan hanya karena seseorang tidak menolak secara verbal. Dalam banyak kasus, korban justru memilih diam karena merasa terintimidasi, bingung, atau tidak memiliki kuasa untuk menolak.

Edukasi mengenai consent menjadi hal yang semakin mendesak, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Consent berarti adanya komunikasi yang terbuka dan saling menghargai batasan. Seseorang berhak mengatakan “tidak” kapan saja, bahkan setelah sebelumnya menyatakan setuju.

Selain itu, penting untuk memahami bahwa consent tidak hanya berlaku dalam konteks hubungan seksual, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari, seperti sentuhan fisik, berbagi informasi pribadi, hingga komunikasi digital.

Pakar juga mendorong peran keluarga dan institusi pendidikan untuk lebih aktif memberikan pemahaman tentang batasan diri dan hubungan yang sehat. Menghilangkan stigma dalam membicarakan isu ini menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Dengan meningkatnya kesadaran publik, diharapkan masyarakat tidak lagi menyalahartikan diam sebagai persetujuan. Pemahaman yang benar tentang consent menjadi kunci dalam mencegah kekerasan dan membangun relasi yang saling menghormati.

Penulis: Bunga Nur’Aini Perdana

Leave A Comment