Kisah dr Gia Pratama Turun Berat Badan usai Tangani Pasien Serangan Jantung

Image: dr gia
Aruna9news.com – Influencer kesehatan sekaligus dokter, Gia Pratama, mengungkap bahwa dirinya pernah memiliki berat badan mencapai 100 kilogram. Pada masa itu, ia mengaku belum benar-benar menyadari bahwa dirinya sudah berada dalam kondisi obesitas yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung.
Kesadaran untuk mengubah gaya hidup muncul ketika ia sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saat itu, dr Gia menangani seorang pasien yang mengalami serangan jantung. Momen tersebut begitu membekas baginya karena pasien itu memiliki usia dan tanggal ulang tahun yang sama dengannya. Pengalaman itu membuatnya tersentak dan mulai memikirkan kondisi kesehatannya sendiri.
Ia menceritakan bahwa pasien tersebut berhasil diselamatkan setelah mendapatkan penanganan menggunakan alat pacu jantung. Namun di balik keberhasilan itu, dr Gia mengaku sempat bertanya dalam hati apakah dirinya bisa menjadi orang berikutnya yang mengalami kondisi serupa. Ia juga mulai memikirkan siapa yang akan menolongnya jika suatu saat terkena serangan jantung.
Dari pengalaman itulah, dr Gia akhirnya memutuskan untuk mulai menjalani pola hidup sehat. Ia mengambil komitmen untuk fokus menurunkan berat badan selama enam bulan dengan menjalankan diet secara konsisten. Menurutnya, perubahan besar harus dimulai dari keputusan dan kedisiplinan diri sendiri.
dr Gia menjelaskan bahwa obesitas sering kali terjadi tanpa disadari. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan berlebihan dalam porsi kecil tetapi terus-menerus. Ia mencontohkan kebiasaan makan gorengan yang awalnya hanya satu potong, tetapi tanpa sadar bisa bertambah menjadi beberapa potong sekaligus.
Dalam menjalani proses penurunan berat badan, dr Gia menegaskan dirinya tidak memakai metode diet ekstrem ataupun pola makan tertentu yang sedang tren. Ia lebih memilih fokus pada prinsip defisit kalori, yakni mengurangi jumlah kalori yang masuk ke tubuh dibandingkan yang dibakar setiap hari.
Ia menekankan bahwa dirinya tidak “memusuhi” makanan atau menghentikan asupan nutrisi penting. Menurutnya, yang perlu dikurangi adalah makanan tinggi kalori namun rendah kandungan gizi. Ia mencontohkan makanan seperti gorengan dan seblak yang menurutnya tinggi kalori tetapi minim vitamin maupun mineral.
Selain itu, dr Gia juga percaya bahwa proses menurunkan berat badan membutuhkan waktu dan konsistensi. Ia menyadari bahwa tubuh tidak menjadi gemuk dalam satu hari, sehingga hasil diet juga tidak bisa diperoleh secara instan. Karena itu, ia memilih menjalani proses secara perlahan tetapi berkelanjutan agar hasilnya lebih sehat dan realistis.
Source: Detik.com
Editor: Ariel Yoga Praditya










