Rue Bennett menjadi salah satu karakter dengan isu psikologis paling kompleks dalam serial tersebut. Rue digambarkan mengalami substance use disorder atau gangguan penggunaan zat yang membuatnya bergantung pada narkoba sebagai pelarian emosional. Selain itu, Rue juga menunjukkan gejala gangguan bipolar yang ditandai dengan perubahan suasana hati ekstrem, impulsivitas, dan kesulitan mengontrol emosi. Kondisi mentalnya diperparah oleh kehilangan sang ayah serta rasa kesepian yang terus menghantuinya.
Di sisi lain, Cassie Howard memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan validasi dapat berkembang menjadi anxious attachment style. Cassie tumbuh dengan luka emosional akibat hubungan yang tidak stabil dengan ayahnya, sehingga ia selalu mencari cinta dan pengakuan dari laki-laki. Ketakutannya untuk ditinggalkan membuat Cassie rela kehilangan identitas dirinya demi mempertahankan hubungan, bahkan hubungan yang menyakitkan sekalipun.
Karakter Maddy Perez juga menyimpan luka psikologis yang tidak kalah rumit. Meski terlihat percaya diri dan dominan, Maddy ternyata memiliki father issues yang memengaruhi cara ia memandang cinta dan relasi. Hubungannya dengan Nate Jacobs memperlihatkan pola trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang terbentuk melalui siklus manipulasi, kekerasan emosional, dan kasih sayang semu. Hal ini membuat Maddy sulit keluar dari hubungan toksik meski ia sadar telah disakiti.
Sementara itu, Nate Jacobs digambarkan sebagai representasi toxic masculinity. Nate tumbuh dalam lingkungan keluarga penuh tekanan, ekspektasi maskulinitas berlebihan, serta hubungan yang dingin dengan ayahnya. Trauma tersebut membuat Nate mengekspresikan emosi melalui kemarahan, dominasi, manipulasi, hingga kekerasan. Karakternya menunjukkan bagaimana standar maskulinitas yang tidak sehat dapat merusak diri sendiri maupun orang lain.
Berbeda dari karakter lainnya, Lexi Howard justru tampil sebagai sosok “the invisible child”. Sebagai anak yang sering diabaikan dalam keluarganya, Lexi terbiasa memendam emosi dan hidup di balik bayang-bayang orang lain, terutama kakaknya, Cassie. Ia memilih menjadi pengamat dibanding pusat perhatian karena merasa keberadaannya tidak cukup penting untuk diperhatikan. Kondisi ini membuat Lexi berkembang menjadi pribadi yang introvert dan sulit mengekspresikan kebutuhan emosionalnya.
Melalui karakter-karakter tersebut, Euphoria berhasil membuka diskusi mengenai kesehatan mental generasi muda, trauma keluarga, hingga hubungan toksik yang sering kali dianggap normal. Serial ini menunjukkan bahwa perilaku destruktif seseorang sering kali berakar dari luka emosional yang belum pernah benar-benar disembuhkan.