MSCI Berencana Coret Saham RI Kategori HSC, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dan PT Barito Renewables Energy Tbk Tertekan

Last Updated: 22 April 2026By Tags: , , ,

Image: Bursa Efek Indonesia

Aruna9news.com – Penyedia indeks saham global, MSCI, berencana mengeluarkan sejumlah saham Indonesia yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) atau kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. Kebijakan ini berpotensi berdampak pada beberapa emiten besar di Tanah Air, Setidaknya ada dua saham yang terancam dicoret dari indeks MSCI, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang terkait dengan konglomerat Prajogo Pangestu. Keduanya masuk dalam kategori HSC karena sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pihak tertentu dalam jumlah dominan.

Pasca pengumuman tersebut, kedua saham langsung mengalami tekanan di pasar. Pada perdagangan Selasa (21/4), DSSA anjlok 14,98% ke level Rp 2.780 per saham, sementara BREN turun 9,47% ke Rp 5.975 per saham. Aksi jual investor asing juga cukup besar, dengan DSSA mencatat net sell sebesar Rp 64,07 miliar dan BREN sekitar Rp 52,14 miliar.

Tekanan berlanjut pada perdagangan Rabu (22/4). Di awal sesi, DSSA kembali melemah 7,55% ke Rp 2.570 per saham, sedangkan BREN turun 6,69% ke level Rp 5.575 per saham, Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kedua emiten tersebut memang memiliki tingkat kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. BREN tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan mencapai 97,31%, sementara DSSA sebesar 95,76%. Kondisi ini membuat free float atau saham yang beredar di publik menjadi sangat terbatas.

Analis menilai, kebijakan MSCI ini akan memicu tekanan jual lanjutan terhadap saham-saham yang masuk kategori HSC. Hal ini karena saham yang dikeluarkan dari indeks biasanya akan ditinggalkan oleh investor institusi global yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi, Dalam pengumuman terbarunya, MSCI juga menyatakan masih membekukan rebalancing indeks untuk Mei 2026. Selain itu, lembaga tersebut tengah mengevaluasi dampak reformasi pasar modal Indonesia terhadap kemudahan akses investasi.

MSCI juga akan menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas 1% untuk menghitung ulang estimasi free float. Selama proses kajian berlangsung, MSCI tidak akan memasukkan sumber data baru dalam perhitungannya, Langkah ini dinilai sebagai upaya MSCI untuk menjaga kualitas indeksnya. Dengan memastikan saham yang masuk memiliki struktur kepemilikan yang sehat dan likuiditas yang memadai, MSCI ingin meningkatkan kepercayaan investor terhadap indeks yang mereka susun.

Source: Detik.com

Editor: Ariel Yoga Praditya

Leave A Comment