Nekat Mendaki Saat Dilarang, 3 Pendaki Tewas dalam Letusan Gunung Dukono
Aruna9news.com, Jakarta – Letusan Gunung Dukono yang terjadi pada Jumat pagi menjadi sorotan media internasional setelah menewaskan tiga pendaki dan memicu operasi penyelamatan besar-besaran di kawasan gunung berapi aktif tersebut.
Sejumlah media asing seperti BBC, Reuters, AFP, hingga Al Jazeera turut memberitakan insiden yang terjadi di gunung setinggi 1.335 meter itu. Video dan foto yang beredar menunjukkan Gunung Dukono memuntahkan kolom abu vulkanik hingga mencapai 10 kilometer ke udara.
Korban tewas diketahui merupakan bagian dari rombongan pendaki berjumlah 20 orang yang terdiri dari warga Indonesia dan Singapura. Mereka diduga tetap melakukan pendakian meski telah ada larangan resmi dari otoritas setempat.

Kepolisian menyebut dua korban merupakan warga Singapura berusia 27 dan 30 tahun, sementara satu korban lainnya adalah perempuan asal Kota Ternate. Hingga kini, proses evakuasi jenazah masih terkendala aktivitas vulkanik yang terus berlangsung.
Kepala Kepolisian Halmahera Utara, Erlichson Pasaribu, mengatakan sebagian besar rombongan berhasil dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Namun, dua porter masih berada di gunung untuk membantu tim penyelamat mencari dan mengevakuasi korban.
Sementara itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) sempat menghentikan sementara proses pencarian pada Jumat malam karena kondisi gunung yang dinilai terlalu berbahaya.
“Pencarian ditutup sementara karena Gunung Dukono terus meletus,” ujar Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani.
Saksi mata di lokasi menyebut letusan kali ini termasuk yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Seorang pemandu wisata bernama Alex Djangu mengaku sudah merasakan tanda-tanda peningkatan tekanan vulkanik sejak sehari sebelum letusan terjadi.
“Saya mengatakan kepada para tamu bahwa akan terjadi letusan besar karena gunung sedang mengumpulkan tekanan di dasar kawah,” katanya kepada AFP.
Menurut para saksi, saat letusan terjadi masih ada sejumlah pendaki yang berada sangat dekat dengan bibir kawah, bahkan beberapa di antaranya sedang merekam video menggunakan drone.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya telah mengeluarkan larangan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari kawah utama sejak Desember 2024. Kawasan wisata Gunung Dukono juga telah ditutup sejak 17 April 2026 menyusul peningkatan aktivitas vulkanik.
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa Gunung Dukono merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia dan tidak bisa dianggap sebagai destinasi wisata biasa.
Pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, menilai maraknya konten media sosial tentang pendakian gunung aktif turut membentuk persepsi keliru mengenai tingkat risiko.
“Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul kapan saja dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu tebal, gas vulkanik, atau letusan eksplosif mendadak,” ujarnya.
Polisi kini tengah menyelidiki kemungkinan adanya kelalaian dari operator wisata maupun pihak yang tetap membawa pendaki ke zona terlarang. Pemandu rombongan dan seorang porter dikabarkan telah dimintai keterangan dan berpotensi menghadapi tuntutan pidana.
Sumber: CNBC Indonesia
Penulis: Annisa Ainaya Salsabila










