Review Film Lee Cronin’s The Mummy: Horor Domestik Brutal dengan Teror Psikologis Mendalam

Aruna9News.com, Sutradara Lee Cronin kembali menunjukkan taringnya di genre horor lewat film Lee Cronin’s The Mummy (2026). Setelah sukses dengan Evil Dead Rise, Cronin kini menghadirkan versi baru monster klasik yang jauh dari kesan petualangan, dan beralih menjadi horor domestik yang gelap, brutal, serta penuh tekanan psikologis.
Berbeda dari versi The Mummy sebelumnya yang identik dengan aksi dan eksplorasi makam kuno, film ini justru mengusung pendekatan intim dengan menjadikan sebuah keluarga sebagai pusat cerita. Kisah berfokus pada keluarga Cannon yang harus menghadapi kenyataan mengerikan ketika putri mereka, Katie, kembali setelah hilang selama delapan tahun di gurun Mesir—dalam kondisi tidak wajar dan terjebak dalam sarkofagus misterius.
Alih-alih menghadirkan suasana petualangan, Cronin memindahkan teror ke dalam rumah sempit di perkotaan. Nuansa klaustrofobik terasa kuat, memperkuat ketegangan yang dibangun perlahan. Teror tidak lagi datang dari luar, melainkan dari dalam rumah dan tubuh manusia itu sendiri.
Secara visual, film ini tampil dingin dan suram berkat sinematografi Dave Garbett. Kontras antara kilas balik gurun Mesir yang panas dengan suasana rumah yang gelap menciptakan atmosfer mencekam. Tak hanya itu, elemen body horror menjadi daya tarik utama dengan tampilan proses mumifikasi yang digambarkan secara ekstrem dan menjijikkan, mulai dari perubahan kulit hingga efek fisik yang mengganggu.

Dari sisi audio, komposer Stephen McKeon menghadirkan skor yang minim jump scare, namun dipenuhi suara-suara frekuensi rendah dan desisan yang justru lebih efektif menciptakan rasa tidak nyaman sepanjang film.
Penampilan para aktor juga menjadi kekuatan utama. Jack Reynor sukses memerankan sosok ayah yang hancur secara emosional, sementara Natalie Grace sebagai Katie menghadirkan sosok yang benar-benar menyeramkan lewat transformasi karakter yang intens. Laia Costa sebagai ibu juga memperkuat dinamika keluarga yang tragis dan penuh dilema.
Film ini tak hanya menyuguhkan teror fisik, tetapi juga menggali tema trauma, kehilangan, dan rasa bersalah. Konflik batin keluarga Cannon menjadi inti cerita yang membuat film terasa lebih dalam dibanding sekadar horor biasa.
Kolaborasi Blumhouse dan Atomic Monster dalam proyek ini juga dinilai berhasil menghidupkan kembali monster klasik dengan pendekatan segar. Tanpa bergantung pada nostalgia, The Mummy versi 2026 hadir sebagai film yang berdiri sendiri dengan identitas kuat di genre horor modern.
Secara keseluruhan, Lee Cronin’s The Mummy adalah film horor yang solid, brutal, dan emosional. Film ini bukan tontonan ringan, melainkan pengalaman sinematik yang intens dan menghantui. Bagi pecinta horor ekstrem dan psikologis, film ini menjadi salah satu yang wajib ditonton tahun ini.
Sumber: duniaku.idntimes
Penulis: Annisa Ainaya Salsabila










