Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.875 per Dolar AS

Aruna9news.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Rupiah ditutup turun 0,22 persen ke posisi Rp17.875 per dolar AS, sekaligus mengakhiri tren penguatan yang sempat berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Sejak awal perdagangan, rupiah sudah bergerak di zona negatif. Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.850 per dolar AS sebelum terus mengalami tekanan hingga sempat bergerak dalam kisaran Rp17.850–Rp17.908 per dolar AS sepanjang hari.

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat menguat menjadi 101,257. Penguatan dolar global tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan rupiah.

Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk periode Juni yang dijadwalkan terbit pada pekan ini. Data tersebut dinilai penting karena akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Dalam beberapa bulan terakhir, pasar tenaga kerja AS menunjukkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor masih mencermati kemungkinan The Fed mempertahankan kebijakan moneter yang ketat guna mengendalikan inflasi.

Berdasarkan proyeksi pasar, peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan akhir Juli diperkirakan mencapai sekitar 31,5 persen. Sementara itu, mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan suku bunga akan dipertahankan pada level saat ini.

Dari dalam negeri, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, memastikan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam kondisi yang sehat. Hingga Mei 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat sebesar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan diperkirakan tetap berada di bawah batas 3 persen hingga akhir tahun.

Pemerintah berharap stabilitas fiskal yang terjaga dapat memperkuat kepercayaan investor serta membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Sumber: CNBC Indonesia

Penulis: Annisa Ainaya Salsabila

Leave A Comment