Aksi utama berupa “Pawai Lilin Akbar ke-189” dimulai sekitar pukul 17.00 waktu setempat di depan pintu keluar 7 Stasiun Balai Kota Seoul. Dalam demonstrasi tersebut, peserta menyuarakan kritik terhadap Amerika Serikat yang mereka nilai telah mencampuri urusan dalam negeri Korea Selatan dan merendahkan kedaulatan negara.
Salah satu isu yang menjadi sorotan massa adalah permintaan terbaru Kedutaan Besar Amerika Serikat di Seoul terkait pencabutan larangan perjalanan terhadap Bang Si-hyuk, pendiri HYBE. Para demonstran menyebut langkah tersebut sebagai bentuk intervensi yang dianggap melanggar kedaulatan Korea Selatan.
Dalam orasinya, massa juga menuduh Amerika Serikat memberikan tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Lee Jaemyung karena dianggap tidak sepenuhnya mendukung agenda perang dan kebijakan luar negeri AS. Sejumlah peserta aksi bahkan menyatakan bahwa Washington sedang “menyerang pemerintahan Lee Jaemyung di berbagai lini”.
Menurut perkiraan kepolisian setempat, sekitar 500 orang menghadiri demonstrasi tersebut. Setelah pawai utama berakhir, sebagian peserta melanjutkan aksi singkat di depan gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat selama sekitar tiga menit.
Dalam aksi lanjutan itu, demonstran meneriakkan berbagai slogan seperti “Hentikan perang dan pembantaian” serta “Tarik pangkalan militer AS di Korea”. Seruan tersebut mencerminkan tuntutan sebagian kelompok masyarakat yang menginginkan pengurangan pengaruh militer dan politik Amerika Serikat di Korea Selatan.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Kedutaan Besar AS maupun pihak pemerintahan Korea Selatan terkait tuntutan dalam aksi tersebut. Namun, demonstrasi ini kembali memperlihatkan meningkatnya sensitivitas publik terhadap isu hubungan bilateral, campur tangan asing, dan dinamika politik domestik di Korea Selatan.